Blitar (beritajatim.com) – Di balik gembar-gembor perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), nasib ratusan guru yang berstatus paruh waktu di Kabupaten Blitar justru berada di titik nadir. Sebanyak 400 lebih guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berstatus paruh waktu kini menjerit lantaran pengabdian mereka hanya dihargai dengan honor Rp500.000 per bulan.
Angka yang jauh dari kata layak ini memicu gelombang kekecewaan, terutama ketika disandingkan dengan gaji petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang nilainya jauh lebih tinggi. Ironisnya, tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa kini dihargai lebih murah dibandingkan tugas menyajikan makanan.
“Jauh lebih kecil (kalau dibandingkan petugas SPPG), kita digaji Rp.500 ribu, kuliah 4 tahun kemudian mencerdaskan anak-anak di pelosok lo,” ucap Sintia, guru SDN Panggungrejo 1 Kabupaten Blitar pada Selasa (17/02/2026).
Tuntutan ratusan guru paruh waktu ini sebenarnya sederhana yakni perbaikan finansial yang layak. Namun, jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar berdalih tidak memiliki anggaran, para guru mengajukan opsi kedua yang logis.
Para tenaga pendidik ini menuntut agar beban kerja disesuaikan dengan status dan bayaran. Selama ini, meski berstatus paruh waktu dengan gaji minim, beban administrasi dan jam mengajar mereka kerap disamakan dengan guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau PPPK yang bergaji penuh.
“Kalau memang tidak ada kenaikan gaji, kami minta keadilan jam kerja. Jangan samakan tugas kami dengan PNS. Kami butuh waktu luang untuk mencari nafkah tambahan di luar sekolah karena gaji dari sini jelas tidak cukup untuk hidup,” tegasnya.
Kondisi ini tentu menjadi tamparan keras bagi Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Membiarkan 400 guru hidup dengan Rp16.000 per hari di tahun 2026 adalah bentuk kelalaian dalam menjamin kesejahteraan pendidik.
Jika aspirasi ini tidak segera didengar, Kabupaten Blitar tentu terancam kehilangan ratusan tenaga pengajar potensial yang memilih mundur atau bekerja seadanya, ini tentu sebuah kerugian besar bagi masa depan pendidikan di Bumi Penataran.
Disisi lain, Gaji guru paruh waktu di Kabupaten Blitar dipastikan tak akan naik selama 1 tahun ke depan. Sebanyak 400 guru paruh waktu di Kabupaten Blitar pun dipastikan akan hanya menerima gaji sebesar Rp.500 ribu selama setahun ke depan. Artinya para guru ini akan hidup selama 1 tahun ke depan dengan pendapatan Rp.16 Ribu per hari.
Kepastian itu diungkapkan langsung oleh Ketua Komisi 4 DPRD Kabupaten Blitar, Sugeng Suroso usai menerima aduan dari ratusan guru Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurut Sugeng jika melihat kemampuan keuangan daerah, maka bisa dipastikan bahwa selama 1 tahun ke depan gaji guru paruh waktu di Bumi Penataran tak akan berubah.
“Iyalah (anggarannya tetap) karena ini kan sudah didok anggarannya sudah berjalan ini,” ungkap Sugeng pada Rabu (11/02/2026).
Sugeng menyebut untuk menaikkan gaji paruh waktu untuk saat ini adalah yang mustahil dilakukan. Pasalnya anggaran untuk gaji guru dan pendidik di Kabupaten Blitar sudah diputuskan.
“Susah dari mana lagi pendapatan tambahannya,” imbuhnya [owi/aje]






