Jember (beritajatim.com) – Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Kahyangan milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, meraup laba Rp1,647 miliar di tengah tumpukan pekerjaan rumah.
Hingga Juli 2026, Kahyangan memperoleh pendapatan Rp25,082 miliar dan memiliki beban usaha Rp23,435 miliar. Pendapatan itu diperoleh dari capaian produksi empat komoditas, yakni karet tercapai 79 persen (515,933 ton), cengkih 1 persen (130 kilogram), tebu 50 persen (31,682 ton), dan kopi 79 persen (55,830 ton).
“Kalau pendapatan tahun sebelumnya (2025) sekitar R41,259 miliar, tahun ini kita menargetkan insyaallah bisa di atas itu. Paling tidak satu atau dua miliar rupiah di atas tahun sebelumnya,” kata Direktur Utama Perumda Perkebunan Kahyangan Gogot Cahyo Baskoro, Minggu (16/8/2026).
Kendati berhasil memperoleh laba, dalam penilaian kinerja tahun buku 2025, Kahyangan masih memperoleh predikat BBB atau kurang sehat. Gogot mengakui ada sejumlah hal yang harus diperbaiki.
Salah satunya adalah penurunan produktivitas komoditas tanaman. “Ke depan kalau bicara produktivitas, kopi ini sudah hampir habis. Kalau tebu insyaallah hasilnya cukup menggembirakan. Yang cengkih, kita tidak bisa terlalu berbuat banyak. Yang bisa kita kejar adalah karet, karena harganya cukup lumayan sehingga insyaallah tertolong untuk kebutuhan operasional,” katanya, Minggu (16/8/2026)..
Oleh sebab itu selama tiga bulan pertama setelah menjabat, jajaran direksi berfokus pada bisnis inti perusahaan untuk menjaga produktivitas sejunlah komoditas yang menjadi tulang punggung penopang ekonomi perusahaan.
Selain problem perawatan, ada sejumlah aksi perusakan dan pencurian tanaman yang merugikan perusahaan. Sejumlah lahan juga ‘diserobot’ atas nama kepentingan masyarakat, “Yang itu memang tidak bisa kita biarkan,” kata Gogot.
Selain menghadapi persoalan komoditas tanaman, Kahyangan menghadapi masalah tingkat kesejahteraan karyawan yang masih rendah.
“Pelan-pelan kita melakukan pembenahan karena memang cukup banyak warisan persoalan yang muncul. Tidak hanya dari direksi sebelumnya, tapi dari beberapa direksi selama 10 tahun terakhir yang masih ada. Nah, ini pelan-pelan kita selesaikan,” kata Gogot.
Manajemen Kahyangan diperbaiki, dengan di antaranya melatih kepada pejabat-pejabat struktural hingga level mandor, perubahan jam kerja, hingga pembentukan tim kehumasan.
“Kita melihat problem utama kita salah satunya adalah public trust. Kepercayaan publik terhadap perusahaan ini sangat rendah. Orang melihat Kahyangan adalah badan usaha yang rugi, yang salah urus, yang mungkin banyak mafianya, banyak fraud-nya, dan seterusnya,” kata Gogot.
Gogot bertekad mengubah persepsi negatif itu. “Kita ubah, kita buktikan sebagaimana yang memang menjadi visi saya untuk menciptakan perusahaan yang good clean corporate, perusahaan yang bersih dan baik,” katanya.
Direksi Kahyangan sudah menjelaskan sejumlah rencana jangka pendek dan panjang hingga lima tahun ke depan kepada Komisi C DPRD Jember, Sabtu (15/8/2026). Gogot berharap ada dukungan dari parlemen dan bupati sebagai kuasa pemilik modal. “Baik itu dukungan kebijakan, dukungan sarana prasarana, maupun yang lain,” katanya.
Gogot juga akan maksimalkan pemanfaatan aset untuk mendatangkan nilai ekonomis bagi perusahaan. “Misalnya dengan model KSP (Kerja Sama Pemanfaatan) atau penertiban masyarakat yang menggunakan lahan kita,” katanya.
Menurut Gogot, di Kebun Kalimrawan, ada 34 lapak di atas lahan perkebunan yang tidak memberikan kontribusi untuk perusahaan. “Jadi bangunan-bangunan semi permanen untuk berjualan. Ada toko kelontong, ada untuk jual sayur, ada untuk potong rambut, ada juga yang dipakai untuk garasi,” katanya.
Tak hanya melakukan perbaikan bisnis inti perusahaan di sektor perkebunan, direksi Kahyangan juga mulai menyentuh pengembangan pariwisata. Ada sejumlah lokasi yang berpotensi dikunjungi wisatawan, seperti Kebun Gunung Pasang, bangunan tua di kawasan kebun, situs sejarah, gua Gunung Pasang, wisata Boma, wisata rimba camp, dan air terjun tancak.
Direksi Kahyangan juga membuka pintu bagi dunia pendidikan untuk datang dan belajar. “Misalnya berkunjung ke pabrik pengolahan karet, pengolahan kopi, enggak apa-apa,” kata Gogot.
Saat ini, ada wisatawan luar negeri yang mulai rutin datang ke Kebun Gunung Pasang. “Kemarin pada tanggal 12 sudah kita layani sekitar 17 orang. Nah, ini ke depan kita kembangkan misalnya berkerja sama dengan perhutani. Nanti kita akan buat FGD untuk membangun masterplan pengembangan kawasan wisata di air terjun Tancak,” kata Gogot.
Gogot juga sudah bertemu dengan komunitas Laskar Kesenian Jember untuk menjajaki kerja sama. “Mereka mau perform di Gunung Pasang, misalkan pada Sabtu atau Minggu misalnya mau bikin perform, sehingga menarik minat wisatawan yang berkunjung ke sana,” katanya. [wir/suf]






