Pamekasan (beritajatim.com) – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat mendorong perubahan besar dalam dunia jurnalistik dan industri media. Hal tersebut disampaikan Samsul Arifin saat menjadi materi dalam kegiatan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) Se-Madura Raya yang diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan, Sabtu (13/6/2026).
Dalam pemaparannya, reporter beritajatim.com wilayah Pamekasan memaparkan bahwa jurnalisme digital merupakan praktik jurnalistik yang memanfaatkan teknologi internet dan berbagai platform digital untuk memproduksi serta mendistribusikan informasi secara cepat, interaktif, dan multimedial.
“Tidak hanya melalui situs berita, penyebaran informasi saat ini juga mulai dilakukan melalui beragam jenis media sosial, aplikasi mobile, podcast, hingga layanan video streaming,” kata Samsul Arifin.
Dalam penerapannya, jurnalisme digital memiliki beberapa karakteristik utama, seperti kecepatan publikasi secara real time, interaktivitas dengan audiens, penggunaan berbagai format multimedia, pemanfaatan tautan informasi, personalisasi konten, serta keterlibatan masyarakat sebagai produsen informasi melalui citizen journalism.
Di sisi lain, jurnalisme digital juga menawarkan berbagai kelebihan, seperti penyebaran informasi yang lebih cepat, jangkauan audiens yang luas, biaya distribusi yang relatif rendah, serta dukungan terhadap berbagai format penyajian berita.
“Selain menawarkan berbagai kelebihan, jurnalisme digital juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya maraknya hoaks dan disinformasi, persaingan kecepatan yang berpotensi mengurangi akurasi, persoalan etika dan verifikasi informasi, serta tekanan algoritma media sosial,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, ia juga memberikan penjabaran singkat seputar konsep konvergensi media yang dipopulerkan oleh Henry Jenkins melalui bukunya ‘Convergence Culture’. “Konvergensi media diartikan sebagai proses integrasi berbagai teknologi, platform, dan konten media ke dalam satu sistem digital yang saling terhubung,” jelasnya.
“Konvergensi media mencakup empat aspek utama, yaitu teknologi, industri, audiens, dan konten. Melalui konvergensi, satu perangkat seperti smartphone dapat digunakan untuk mengakses berbagai layanan sekaligus, sementara perusahaan media dapat mengelola televisi, radio, portal berita daring, dan media sosial dalam satu ekosistem terintegrasi,” imbuhnya.
Dalam perspektif teoretis, konsep ini didukung oleh teori konvergensi media Henry Jenkins, teori masyarakat jaringan dari Manuel Castells, serta teori determinisme teknologi yang dikemukakan Marshall McLuhan. “Ketiga teori ini menjelaskan bagaimana teknologi digital telah mengubah pola komunikasi, perilaku audiens, serta cara masyarakat memproduksi dan mendistribusikan informasi,” bebernya.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak para peserta memahami bahwa jurnalisme digital dan konvergensi media merupakan dua konsep yang saling berkaitan. Keduanya menjadi faktor penting dalam transformasi industri media modern, sekaligus mendorong lahirnya model komunikasi yang lebih partisipatif di era digital,” pungkasnya.
Kegiatan DjTL Se Madura Raya yang mengusung tema ‘Pers Mahasiswa dan Perlawanan di Tengah Truth Issue’, digelar sebagai sarana penguatan kapasitas pers mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital, seperti penyebaran hoaks, disinformasi, hingga manipulasi informasi.
Dalam kegiatan yang digelar sejak Jum’at hingga Minggu (12-14/6/2026), menghadirkan kalangan praktisi dan pelaku media dengan penyampaian beragam materi berbeda, di antaranya M Khairul Umam (Jurnalisme Investigasi), Moh Ghazi Mujtaba (Berita in Depth), Taufiqurrahman (Etika Jurnalistik dan Hukum Pers), dan Sukriyanto (Public Speaking dan Presentasi Berita). [pin/aje]






