Jember (beritajatim.com) – Banjir melanda 23 desa di 10 kecamatan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, 12-13 Februari 2026. Bupati Muhammad Fawait menyebut adanya dua persoalan.
“Berdasarkan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) pada 10-20 Februari ini, curah hujan akan luar biasa di daerah Jawa Timur, khususnya di wilayah Tapal Kuda,” kata Bupati Fawait, ditulis Sabtu (14/2/2026).
Curah hujan tinggi ini menyebabkan debit air meningkat yang menyebabkan banjir. Persoalan kedua, menurut Fawait, adalah infrastruktur pengairan. “Kami temukan bantaran sungai yang dibangun menjadi perumahan. Ini tentu membahayakan untuk ke depannya,” katanya.
“Bantaran sungai dibuat rumah, ya pasti banjir dong. Kami akan bertemu dengan beberapa komunitas masyarakat korban pembangunan bantaran sungai. Kita akan minta developer untuk merelokasi,” kata Fawait.
Fawait tak segan-segan mengambil tindakan tegas jika pengembang perimahan menampik permintaannya. “Kalau enggak, ya kita pakai cara-cara sesuai dengan aturan hukum,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember saat ini tengah mengidentifikasi titik-titik yang membahayakan dan perlu diperbaiki. “Tapi sekali lagi masalah infrastruktur tidak bisa kita selesaikan dalam waktu sebulan dua bulan. Saya menjabat baru satu tahun,” kata Fawait.
Saat ini Fawait sudah tahu persoalan di Jember yang menyebabkan banjir berulang setiap tahun. “Mudah-mudahan tahun depan bisa kita selesaikan,” katanya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember melaporkan adanya tiga jembatan yang roboh akibat banjir, Fawait sendiri memperkirakan jumlahnya lebih. Dia berencana mengalokasikan anggaram perbaikan dalam Perubahan APBD Jember 2026 dan APBD Jember 2027. [wir]






