Blitar (beritajatim.com) – Jembatan Jetis di Desa Butun, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, mengalami kerusakan parah. Tiga lubang besar terlihat menganga di badan jembatan.
Kerusakan tersebut sudah terjadi sejak tujuh bulan lalu. Namun, hingga kini belum juga diperbaiki.
Akibatnya, warga setempat resah. Mereka khawatir akan terjadi kecelakaan jika jembatan tersebut tidak segera diperbaiki.
“Jembatan ini sudah rusak sejak sebelum Ramadan. Awalnya hanya ada lubang kecil, tapi lama-lama lubangnya makin besar karena dilalui kendaraan berat dan terkena hujan,” ujar salah seorang petugas jaga, Anto Kusumo, Senin (28/8/2023).
Larangan melintas bagi kendaraan berat sudah dipasang di sekitar lokasi namun tetap saja banyak kendaraan berat yang lalu-lalang di jembatan tersebut. Hal itu terpaksa dilakukan karena jembatan tersebut merupakan akses utama untuk menuju daerah terdekat.
BACA JUGA:
Tlogo Gentong, Kampung Terasingkan di Lereng Kawi Blitar
Bahkan, ada beberapa laporan atas kejadian kecelakaan di atas jembatan sejak awal tahun ini. Itu membuat pemerintah desa (pemdes) setempat menutup sebagian badan jembatan agar tidak dilalui warga.
“Sampai sekarang, saya belum ada kabar atau kepastian dari pemdes soal perbaikan Jembatan Jetis ini,” ujar Santo, warga setempat.
Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar, Hamdan Zulkifri Kurniawan mengatakan, perbaikan Jembatan Jetis baru bisa dilakukan tahun depan. Musababnya, ada perubahan dalam sistem informasi pembangunan daerah (SIPD).
“Perbaikan baru bisa dilakukan di awal tahun depan. Pelaksanaannya diperkirakan memakan waktu 4-5 bulan. Perbaikan Jembatan Jetis bakal memakan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar,” kata Hamdan.
BACA JUGA:
Penganiaya Siswa MTs di Blitar Belajar Pukulan dari YouTube
Dinas PUPR juga berkoordinasi dengan pihak pemerintah desa setempat dalam upaya pengaturan jumlah kendaraan yang melintas di jembatan. Teknisnya, jumlah warga yang melintas dibatasi sebanyak dua kendaraan dalam satu kali buka jalur.
“Pertimbangan kami, karena pembangunan atau renovasi jembatan masih tahun depan, jadi untuk semetara ini harus dilakukan pembatasan jumlah kendaraan yang melintas,” pungkas Hamdan. [owi/beq]






