Ringkasan Berita:
- Jemaah haji asal Kota Madiun, Djurianto, meninggal dunia di Tanah Suci setelah menyelesaikan rangkaian utama ibadah haji.
- Kabar duka diterima keluarga di Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, pada Minggu (31/5/2026).
- Almarhum sempat menyelesaikan Thowaf Ifadhah sebelum kondisi kesehatannya menurun dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
- Keluarga mengaku ikhlas karena seluruh rukun haji wajib telah berhasil ditunaikan sebelum almarhum wafat.
Madiun (beritajatim.com) – Kabar duka menyelimuti rombongan jemaah haji asal Kota Madiun. Djurianto, jemaah haji yang tergabung dalam kloter SUB 22, meninggal dunia di Tanah Suci setelah menuntaskan rangkaian utama ibadah haji. Keluarga memastikan almarhum telah menyelesaikan seluruh rukun haji wajib sebelum wafat.
Kabar wafatnya Djurianto diterima keluarga pada Minggu (31/5/2026) pagi. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh pengurus Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Jabal Rahmah yang datang ke rumah duka di Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
Anak kedua almarhum, Berlian Ryan Saputra, mengaku tidak menyangka menerima kabar duka tersebut. Saat informasi itu datang, dirinya sedang berada di luar rumah untuk membeli oleh-oleh sebagai persiapan menyambut kepulangan kedua orang tuanya dari Tanah Suci.
“Saya dikabari tetangga kalau ada orang KBIHU datang ke rumah. Setelah pulang, ternyata Gus Soleh dan beberapa pengurus sudah menunggu untuk menyampaikan kabar kalau Bapak meninggal dunia,” ujar Berlian.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, almarhum sempat menyelesaikan Thowaf Ifadhah sebelum kembali ke hotel tempatnya menginap. Namun, sesampainya di kamar, kondisi kesehatannya mendadak menurun dengan keluhan mual dan muntah.
Petugas kemudian membawa Djurianto ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, ia dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Bagi keluarga, komunikasi terakhir dengan almarhum menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Beberapa hari sebelum kabar duka diterima, Djurianto masih sempat menghubungi anak-anaknya di Indonesia.
“Komunikasi terakhir sekitar beberapa hari yang lalu. Ketika itu bapak minta tolong menghubungi Ibu karena sulit dihubungi. Beliau hanya minta dibikinkan mi instan,” kenang Berlian.
Di mata keluarga, Djurianto dikenal sebagai sosok pekerja keras yang memiliki semangat tinggi dalam beribadah. Meski memiliki riwayat diabetes, ia tetap berupaya menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan maksimal.
Selama berada di Tanah Suci, almarhum juga membantu menyelesaikan sebagian rangkaian ibadah sang istri yang kondisinya kurang fit akibat sering sakit dan sempat terjatuh. Kondisi tersebut membuat beban fisik yang dijalani almarhum menjadi lebih berat dibandingkan jemaah lainnya.
“Bapak sebenarnya sering mengeluh capek kepada adik perempuan saya. Karena kondisi Ibu tidak memungkinkan, beberapa prosesi ibadah dibantu oleh Bapak. Jadi beliau menjalani ibadah lebih banyak dan mungkin kelelahan,” tuturnya.
Meski masih diselimuti rasa kehilangan, keluarga mengaku ikhlas melepas kepergian almarhum. Mereka merasa terhibur setelah mendapat penjelasan dari pembimbing haji bahwa seluruh rukun haji wajib telah berhasil ditunaikan sebelum Djurianto wafat.
“Kami sekeluarga ikhlas. Kata pembimbing haji, Bapak sudah menyelesaikan seluruh rukun hajinya. Kami hanya bisa mendoakan semoga beliau husnul khatimah, diampuni segala dosanya, dan memperoleh haji yang mabrur,” pungkas Berlian. [rbr/beq]






