Ringkasan Berita
- Permintaan sepatu sekolah rumahan di Mojokerto meningkat jelang tahun ajaran baru.
- Produksi sepatu milik Fahri di Sooko mengalami kenaikan pesanan hingga 100 persen.
- Produk unggulan meliputi sepatu sekolah, paskibraka, hingga PDH TNI/Polri.
- Pesanan datang dari berbagai daerah hingga luar Jawa dengan jumlah ratusan pasang.
Mojokerto (beritajatim.com) – Menjelang tahun ajaran baru, permintaan sepatu sekolah produksi rumahan di Kabupaten Mojokerto mengalami peningkatan signifikan. Kondisi tersebut dirasakan pelaku usaha sepatu kulit milik Pahrur Rozi Nasution (35) di Jalan Tongkol VII Blok O-240, Wisma Sooko Indah, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Usaha yang dikelola bersama istrinya, Anita Rosyada (32), itu memproduksi berbagai jenis sepatu berbahan kulit sapi asli. Mulai dari sepatu sekolah model pantofel, sepatu paskibraka, hingga sepatu Pakaian Dinas Harian (PDH) untuk satpam maupun TNI/Polri.
Momentum penerimaan siswa baru menjadi berkah tersendiri bagi usaha rumahan tersebut.
“Jelang penerimaan siswa baru, permintaan alhamdulillah mulai mengalami peningkatan. Karena selama ini ada beberapa sekolah yang sudah langganan mengambil ke kami, termasuk pesanan sepatu untuk paskibraka,” ungkap Fahri, Kamis (21/5/2026).
Seluruh detail produksi menggunakan bahan kulit sapi asli, termasuk pada produk sepatu paskibraka yang menjadi salah satu unggulan usahanya. Bahan baku kulit sapi tersebut didatangkan langsung dari Magetan.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang tahun ajaran baru, Fahri mengaku sengaja menyiapkan stok lebih awal agar pesanan sekolah dapat dipenuhi tepat waktu.
“Kenaikan saat tahun ajaran baru bisa sampai 100 persen dibanding hari biasa antara 80 sampai 100 pasang. Jadi kami siapkan stok supaya pihak sekolah tidak terlalu lama menunggu sepatu selesai. Untuk moment 17 Agustus, yang sudah masuk dari Pemerintah Kota Surabaya untuk kebutuhan sepatu paskibraka,” katanya.
Tak hanya melayani pasar lokal Mojokerto, pesanan sepatu juga datang dari berbagai daerah seperti Semarang, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam sekali pemesanan, jumlah order bisa mencapai ratusan pasang bahkan hingga 700 pasang sepatu.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi tergantung jenis dan model produk.
“Mulai Rp100 ribu hingga Rp200 ribuan per pasang, tergantung model dan jenis sepatu. Sementara untuk sepatu perempuan, harga grosir per kodi sekitar Rp80 ribu per pasang. Modelnya sebenarnya hampir sama saja, ada model boots untuk PDL dan model PDH. Tinggal tergantung permintaan, mau pendek atau tinggi,” jelasnya.
Momentum tahun ajaran baru dan musim paskibraka disebut selalu menjadi masa panen pesanan setiap tahun bagi usaha tersebut.
Dalam menjalankan produksinya, Fahri dibantu sekitar 25 pekerja. Sebanyak 15 orang bekerja di lokasi produksi, sedangkan 10 lainnya merupakan penjahit yang mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.
Selain memenuhi kebutuhan sekolah dan instansi, usaha sepatu tersebut juga melayani suplai stok untuk penjualan grosir maupun pasar online. [tin/beq]






