Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian masyarakat Universitas Negeri Malang program studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) menghelat kegiatan sosialisasi bagi TP-PKK desa Sumbersekar. Kegiatan ini menunjukkan komitmen UM dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pengabdian masyarakat.
Shofwah Hilyatul Auliya, panitia acara menjelaskan bahwa tinggi informasi di era digitalisasi menimbulkan berbagai spekulasi pada informasi yang beredar di kalangan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga. Penggunaan media sosial yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari memudahkan masyarakat dalam sebaran informasi.
“Padahal informasi itu belum diketahui pasti kebenarannya, belum lagi maraknya berita politik yang beredar menjelang pemilu 2024. Antusiasme masyarakat terutama kalangan perempuan dalam menyebarkan informasi, perlu diiringi dengan kemampuan menganalisa fakta informasi yang akan disebarkan,” kata Shofwah.
Menurutnya, meskipun informasi awalnya bertujuan menolong sesama, tetapi jika berita yang disebarkan merupakan informasi palsu justru akan memberi dampak negatif bagi masyarakat luas. Dalam upaya menangkal hoaks dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial timnya mengadakan sosialisasi bertema ‘Peningkatan Kemampuan Literasi TP-PKK Sebagai Upaya Pencegahan dari Terpaan Informasi Palsu Menjelang Tahun Politik 2024,’.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan TP-PKK Desa Sumbersekar dapat membantu masyarakat desa dalam menangkal tersebarnya informasi palsu atau berita hoaks, baik terkait unsur SARA, kriminalitas, politik, pendidikan, kesehatan, lowongan pekerjaan, dan lain sebagainya,” terang Shofwah.
Ada dua narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan, yaitu Prita Prabawangi M.Si., dan Megasari Noer Fatanti M.I.Kom. Keduanya menyampaikan tentang hoaks dan cara pencegahan terhadap hoaks.
Prita Prabawangi M.Si., narasumber acara membuka pemaparan dengan menjelaskan tentang itu hoaks dan jenis hoaks. “Hoaks merupakan sebuah informasi rekayasa yang sengaja dilakukan untuk memanipulasi informasi yang sebenarnya. Hoaks itu memiliki 7 jenis, diantaranya satire, misleading content, imposter content, fabricated content, false connection, false context, dan manipulated content,” ujar Prita
Prita menambahkan bahwa informasi palsu yang beredar di media sosial disebabkan rendahnya literasi digital dan minimnya kemampuan identifikasi informasi. Prita juga memberi tips untuk ibu rumah tangga guna menghadapi anggota keluarga atau orang terdekat yang menyebarkan informasi palsu. “Saya sarankan ketika ibu-ibu berusaha memberikan teguran, alangkah baiknya jika kita
menggunakan kata yang positif dan nada yang mendukung. Selain mengirimkan pesan secara privat dengan sopan, memberikan kisah pribadi saat kita percaya informasi palsu dapat memberikan dampak positif bagi orang yang kita tegur,” tuturnya saat pematerian.
Sementara itu, Megasari Noer Fatanti M.I.Kom narasumber kedua membagikan tips bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu agar tidak mudah terjebak hoaks. Dia menyampaikan cara identifikasi informasi dengan Google dan aplikasi Turn Back Hoax.

“Tidak semua informasi yang beredar merupakan informasi yang benar dan dapat dipercaya, oleh sebab itu, kita perlu analisa dan memilah informasi dengan situs media kredibel seperti aplikasi google. Langkah yang harus dilakukan dalam cek fakta suatu informasi yaitu menelusuri foto atau video yang berkaitan, bisa dengan google image reverse atau aplikasi pencarian gambar lainnya,” kata Megasari.
Tak hanya sosialisasi materi teknis, tim pengabdian UM juga mengadakan kuis serta sharing session sebagai evaluasi dengan peristiwa yang pernah terjadi di masyarakat. Hal tersebut bertujuan agar anggota TP-PKK termotivasi untuk bekerja sama menangkal hoaks. “Oleh karena itu, masyarakat perlu saring sebelum sharing,” tutup Megasari. (dan/kun)
BACA JUGA: Guru Besar UM Malang: Masyarakat Jawa Miliki Aporisma ‘Weruh Sadurunge Winarah’






