Banyuwangi (beritajatim.com) – Menjelang pertunjukan akbar Gandrung Sewu 2026, jajaran tim kreatif memulai rangkaian persiapan dengan langkah spiritual melalui ziarah ke makam leluhur Seblang di Desa Olehsari, Kamis (23/4/2026).
Suasana sakral terasa menyelimuti prosesi tersebut. Para seniman bersama tokoh adat setempat memanjatkan doa di area makam, yang kemudian dilanjutkan dengan syukuran sebagai bentuk permohonan izin kepada para leluhur.
Ritual ini dilakukan sebagai wujud penghormatan terhadap akar budaya yang menjadi ruh utama pertunjukan Gandrung Sewu tahun ini. Pada edisi 2026, tari kolosal kebanggaan Banyuwangi tersebut mengusung tema “Kembang Dermo”.
Kembang Dermo bukan sekadar rangkaian bunga biasa. Susunan ini terdiri dari dua kuntum bunga kenanga berwarna kuning dan hijau, serta bunga kantil atau cempaka putih yang ditempatkan di bagian tengah.
Rangkaian bunga tersebut ditancapkan pada sebilah bambu kecil. Dalam kepercayaan masyarakat lokal, Kembang Dermo diyakini memiliki makna spiritual, mulai dari mendatangkan keberuntungan, mempercepat jodoh, hingga menjadi sarana tolak bala.
Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis, mengaku bangga karena nilai-nilai luhur dari desanya diangkat dalam ajang berskala nasional yang masuk dalam Karisma Event Nusantara, kalender event Kementerian Pariwisata RI.
“Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman pegiat seni yang tahun ini mengangkat tema Kembang Dermo. Ini adalah identitas daerah kami yang memiliki nilai sakral,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kembang Dermo merupakan inti dari ritual Seblang Olehsari. Secara etimologi, istilah tersebut berasal dari “sak dermo” yang bermakna keikhlasan dalam menjalani kehidupan sesuai peruntukannya.
“Dipercaya sebagai tolak bala, penyembuhan penyakit, menghilangkan hal-hal yang kurang baik, hingga kembang keberkahan. Semua itu tergantung bagaimana orang menerjemahkannya dengan niat yang tulus,” tambahnya.
Ketua Paguyuban Pelatih dan Seniman Banyuwangi, Suko Prayitno, juga menegaskan pentingnya etika dalam menjalankan tradisi. Ia menyebut proses ‘kulonuwun’ atau permisi kepada tokoh adat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kerja kreatif.
“Sebagai orang yang cinta adat tradisi turun-temurun, setiap melakukan sesuatu yang berhubungan dengan adat, maka kita selalu permisi agar tidak melanggar norma yang sudah ada,” katanya.
Menurut Suko, pemilihan tema Kembang Dermo menuntut kehati-hatian agar pesan filosofisnya tetap terjaga saat ditampilkan dalam bentuk tari kolosal.
“Kita mengangkat tema Kembang Dermo, sehingga kita meminta petunjuk tokoh adat supaya diberikan kelancaran dalam seluruh prosesnya, dari latihan hingga hari H nanti,” tegasnya. [alr/but]






