Malang (beritajatim.com) – Dari irigasi IoT hingga insinerator asap menjadi bukti nilai kepemimpinan Tanoto Foundation mencetak agen perubahan. Mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tanoto Scholars Association (TSA) membuktikan bahwa SDGs bukan sekadar jargon.
Mereka menghadirkan teknologi IoT untuk petani Tawangsari dan solusi insinerator sampah di Muharto. Bagaimana kisah perjalanan mereka mengubah niat baik menjadi dampak terukur?
Semua itu dimulai oleh inisiatif sekelompok generasi Z, mahasiswa UB yang menolak menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) hanya sebagai bahan presentasi di ruang kuliah. Kelompok ini membuktikan sebuah tesis bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada dampak bukan lagi wacana masa depan, melainkan kebutuhan mendesak hari ini.
Kisah mereka bukan sekadar tentang mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata, tetapi bukti sebuah kurikulum kepemimpinan mampu mengubah pola pikir, dari sekadar penerima bantuan menjadi pemberi solusi. Kumpulan mahasiswa UB yang berjumlah belasan orang ini adalah kisah tentang living proof dari ekosistem pendidikan yang dibangun secara sistematis.
DNA Kepemimpinan: Lebih dari Sekadar Alumni
Seringkali, program beasiswa dan pelatihan kepemimpinan dilihat secara berbeda. Namun, apa yang terjadi di TSA Brawijaya menunjukkan fenomena yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Rachel Liemidia, Presiden TSA Brawijaya 2025, mereka bergerak dengan dampak nyata pada masyarakat.
Program kerja mereka yang diberi tajuk AKSIS (Aksi Sosial Implementasi SDGs) hadir dari sedimentasi nilai yang mereka serap selama menjadi bagian dari keluarga besar Tanoto Foundation. Di sinilah letak keunikannya. Meskipun TSA Brawijaya secara struktural merupakan penerima beasiswa TELADAN, metode berpikir, kerangka kerja, dan visi keberlanjutan yang mereka terapkan di lapangan adalah cerminan utuh dari apa yang diperjuangkan oleh SDG Academy Indonesia.
Secara administratif, TSA Brawijaya memang bernaung di bawah program TELADAN Tanoto Foundation. Namun, semangat yang mereka bawa memiliki DNA yang identik dengan visi SDG Academy Indonesia.
Sebagai inisiator SDG Academy, Tanoto Foundation menanamkan kurikulum kepemimpinan yang serupa kepada para penerima beasiswanya, berorientasi pada dampak, berbasis data, dan berkelanjutan.
TSA Brawijaya menjadi bukti bahwa ekosistem pembangunan kapasitas yang dibangun Tanoto Foundation baik melalui TELADAN maupun SDG Academy telah berhasil mencetak tunas-tunas pemimpin yang siap mengakselerasi pencapaian SDGs 2030. Mereka bergerak dengan pendekatan terukur layaknya seorang perencana pembangunan profesional.
Menerjemahkan “Pay It Forward” Menjadi Solusi Data
“Sebenarnya Tanoto Foundation mengajarkan kita untuk Pay It Forward. Basisnya bukan untuk kami nikmati sendiri atau mengembalikan uang ke yayasan, tapi kami diminta untuk kasih balik.ke masyarakat,” ujar Rachel Liemidia, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya yang juga sedang menempuh studi S2, saat ditemui beritajatim.com, Kamis (1/12/2025).
Rachel, gadis asal Bandung yang didapuk memimpin rekan-rekannya tahun ini, menjelaskan bahwa semangat tersebut berakar dari metodologi ketat yang dipelajari. Sebelum satu cangkul diayunkan di desa binaan, atau satu alat dirakit, mereka harus melalui proses Theory of Change (ToC), analisis akar masalah (Root Cause Analysis), hingga perencanaan keberlanjutan (Sustainability Plan).
“Kami tidak diajarkan untuk membuat proyek sekali jadi lalu ditinggal. Kami diajarkan memetakan masalah: apakah dampak yang kita lakukan ini memang kebutuhan penerima manfaat, atau ternyata hanya keinginan ego kita semata?” tegas Rachel.
Pola pikir kritis inilah yang membedakan proyek sosial TSA Brawijaya. Mereka tidak datang membawa bantuan sembako yang habis dalam sekejap. Mereka datang membawa sistem.
AKSIS #1: Revolusi IoT di Lahan Tawangsari
Pemilihan Desa Tawangsari sebagai lokasi proyek bukan tanpa alasan. Desa ini menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar. Data lapangan menunjukkan bahwa desa ini menaungi enam kelompok tani dengan sekitar 80 persen penduduknya bekerja sebagai petani mandiri.
Komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat yang dihasilkan mampu mencatatkan perputaran uang lebih dari Rp 50 miliar per tahun. Namun, potensi emas ini dibayangi oleh inefisiensi pengelolaan sumber daya alam. Data menunjukkan bahwa 50 persen dari total penggunaan air di desa dialokasikan untuk sektor pertanian.

Sayangnya, diperkirakan 20 persen dari air tersebut terbuang sia-sia akibat metode penyiraman manual yang belum efisien. Zahroti Syakira Niami, Project Officer AKSIS #1, menjelaskan urgensi intervensi teknologi di wilayah ini.
“AKSIS merupakan sebuah project yang dirancang sebagai bentuk kontribusi terhadap pencapaian SDGs. Dengan adanya AKSIS, diharapkan dapat tumbuh rasa kepedulian terhadap masalah-masalah sekitar,” ungkap Zahroti.
Berangkat dari data dan kepedulian tersebut, TSA Brawijaya menggandeng Tim Workshop IoT dari Himpunan Mahasiswa Elektro Fakultas Teknik UB (HME FT-UB), mereka merancang alat irigasi pintar berbasis Internet of Things (IoT).
“Kita melihat rencana strategis pembangunan berkelanjutan. Ternyata kebutuhan Indonesia, dan spesifik di daerah tersebut, adalah modernisasi pertanian. Makanya kita melakukan AKSIS #1 yang bertanding menggunakan teknologi,” kata Presiden TSA Brawijaya, Rachel.
Alat yang diluncurkan pada 27 Juni 2025 lalu ini bekerja dengan presisi tinggi. Sensor yang tertanam di tanah memantau kelembaban, suhu udara, dan unsur hara secara real-time. Data tersebut dikirim ke aplikasi ponsel petani.
“Kabar terakhir setelah kami monitoring, bahkan booklet panduan kami dibawa oleh tim Dinas Hortikultura di sana untuk dipelajari lebih lanjut. Ini artinya inovasi teman-teman diakui bisa menjadi changemaker di level kebijakan lokal,” ungkapnya dengan bangga.
Sistem irigasi hanya akan menyala jika tanah benar-benar membutuhkan air, menghemat sumber daya air dan pupuk secara signifikan.
Ketua Pelaksana AKSIS #1, Tisya, menyatakan bahwa dampak program ini dirancang agar dirasakan langsung oleh warga, bukan sekadar seremonial panitia.
“Tidak hanya panitia yang dapat merasa manfaat dari AKSIS #1, tetapi juga masyarakat Desa Tawangsari yang menerima alat kontrol penyiraman IoT untuk meningkatkan efisiensi sumber daya alam pada bidang pertanian,” tuturnya.
Tisya menambahkan harapannya agar teknologi ini diadopsi dengan baik. “Semoga para petani yang hadir dapat memahami cara kerja alat ini dan memanfaatkannya secara optimal,” jelasnya.
Dampak pun diakui oleh pengurus Kelompok Tani Sumbermulyo II Desa Tawangsari, Eko Yulianto, menurutnya kehadiran mahasiswa ini membawa angin segar. “Harapan saya, instalasi ini akan menjadi model dan menginspirasi desa-desa lain,” ujarnya.
Bagi Rachel, ini adalah manifestasi nyata dari SDGs Poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan Poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
AKSIS #2: Menghapus Asap di Langit Muharto

Jika di Tawangsari mereka bermain dengan efisiensi air, di Kelurahan Muharto, TSA Brawijaya berhadapan dengan krisis sampah yang kian mendesak. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mencatat tren peningkatan timbulan sampah yang mengkhawatirkan, dari 279.148 ton pada tahun 2022 naik menjadi 284.095 ton pada tahun 2023.
Angka statistik yang meresahkan ini mewujud nyata di wilayah RW 9 Muharto Kotalama. Di sini, kebiasaan membuang sampah ke sungai atau membakarnya masih menjadi pemandangan umum.
“Kenapa masalah sampah ini muncul? Di sungai daerah Muharto, warga sudah punya kebiasaan buang sampah ke sungai. Bau, risih, tapi tetap dilakukan. Kalau tidak dibuang, mereka bakar. Asapnya ke mana-mana,” papar Rachel menganalisis akar masalah.
Alih-alih hanya melakukan kerja bakti membersihkan sungai yang akan kotor lagi esok harinya, TSA Brawijaya menerapkan solusi berbasis teknologi tepat guna dan perubahan perilaku.
Mereka memperkenalkan Insinerator Minim Asap. Alat pembakar sampah ini dirancang khusus untuk meminimalisir asap hasil pembakaran, sehingga mengurangi polusi udara secara drastis. Namun, alat canggih saja tidak cukup. Mereka masuk melalui pendekatan personal dan edukasi.
“Kami menggandeng komunitas Trash Hero Tumapel untuk edukasi. Kami ajak anak-anak usia 6-10 tahun lomba melukis tempat sampah. Tujuannya menanamkan rasa memiliki (sense of ownership). Kalau mereka yang melukis, mereka akan sayang untuk membuang sampah sembarangan,” kata Rohdearman Sinaga, Koordinator AKSIS #2.
Kolaborasi ini mendapat sambutan hangat dari mitra lapangan. Ketua Chapter Trash Hero Tumapel, Coqi Basil, yang turut hadir dalam peresmian alat, menegaskan pentingnya sinergi ini.
”Kami di Trash Hero Tumapel sangat mengapresiasi upaya teman-teman dalam berkolaborasi di AKSIS #2. Kami selalu mengharapkan yang terbaik dari teman-teman yang melaksanakan program ini agar fasilitas dan edukasi yang diberikan memberikan manfaat maksimal,” ujar Coqi.
Senada dengan Coqi, apresiasi mendalam juga datang dari warga RW 9. Salah satu tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian nyata yang diberikan mahasiswa terhadap lingkungan mereka yang selama ini kumuh.
”Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah hadir dan membantu memberikan solusi nyata bagi lingkungan kami. Kami berharap alat dan edukasi yang diberikan akan terus dimanfaatkan oleh warga dan menjadi awal perubahan menuju lingkungan yang lebih bersih,” tuturnya.
Melalui AKSIS #2, TSA Brawijaya tidak hanya sekadar memberikan alat, tetapi berupaya memperkenalkan pola pengelolaan sampah yang terstruktur, meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Langkah komprehensif ini merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Rachel menekankan bahwa tantangan terbesar di Muharto adalah komunikasi. “Kami masuk ke desa yang belum tentu mau menerima teknologi. Kami belajar mencari Key Opinion Leader (KOL), orang yang sekiranya terbuka dulu, baru kami lakukan pendekatan ke warga lain. Untungnya, kami sudah punya koneksi karena ini bukan kali pertama kami ke sana,” jelasnya.
Keberlanjutan: Kunci Pembeda
Salah satu kritik terbesar terhadap gerakan mahasiswa adalah sifatnya yang hit and run. Datang, foto, laporan, lalu pulang. TSA Brawijaya, berbekal kurikulum Tanoto Foundation, berupaya keras mematahkan stigma tersebut.
“Kami melakukan monitoring secara berkala. Untuk insinerator dan IoT, kami monitoring dua kali pasca-pelaksanaan,” kata Rachel.
Namun, Rachel menyadari bahwa mereka tidak bisa selamanya di sana. Oleh karena itu, strategi exit plan sudah disiapkan sejak awal. Kuncinya adalah transfer pengetahuan.
“Kami buatkan booklet dan leaflet teknis. Di situ ada cara pembuatan alat, cara pengelolaan, dan perawatannya. Harapannya, saat kami pergi, desa tersebut tidak bergantung pada kami. Sistemnya sudah berjalan sendiri,” tegas Rachel. Kemandirian masyarakat inilah indikator sukses sejati dari sebuah program pemberdayaan.
Transformasi Personal Sang Pemimpin
Di balik kesuksesan program besar ini, terdapat transformasi personal dari para pelaksananya. Rachel Liemidia mengakui, sebelum menerima beasiswa TELADAN, ia belum semelek itu terhadap isu sosial.
“Dulu saya belum sadar pentingnya ngasih balik ke masyarakat. Sampai saya dapat beasiswa ini, yang fasilitasnya se-privilege itu. Tidak cuma UKT dan tunjangan, tapi pelatihan kepemimpinan yang mengubah hidup saya,” kenangnya.

Melalui modul seperti Self-Awareness, Leading with Others, hingga manajemen proyek, Rachel menemukan titik temu antara ilmu hukum yang ia pelajari dengan hasrat sosialnya.
“Saya jadi sadar, ke depan saya ingin Pay It Forward di bidang pengajaran hukum. Selama ini masyarakat takut sama hukum, padahal hukum itu penting. Saya ingin membuat modul yang menyederhanakan bahasa hukum untuk masyarakat,” ungkap Rachel tentang rencana masa depannya.
Pengalaman memimpin TSA Brawijaya dan menjalankan AKSIS telah memberinya laboratorium nyata untuk menguji kemampuannya. Ia belajar bahwa untuk membuat dampak, seseorang harus mengenali dulu apa yang ia sukai (passion) dan apa yang ia mampu (skill).
“Mulailah dari skala yang paling kecil sekalipun. Cari apa yang kamu suka, apa yang kamu mau, tapi pastikan itu berdampak buat masyarakat,” pesannya kepada generasi muda lain.
Ekosistem Harapan
Apa yang dilakukan TSA Brawijaya di Tawangsari dan Muharto adalah mikrokosmos dari cita besar pembangunan berkelanjutan. Mereka membuktikan bahwa SDGs bukan hanya urusan diplomat di markas PBB, melainkan urusan mahasiswa, petani, dan warga kampung.
Keberhasilan mereka mengintegrasikan teknologi IoT dan manajemen limbah berbasis komunitas menegaskan bahwa generasi muda Indonesia siap memegang tongkat estafet kepemimpinan. Mereka tidak hanya siap bekerja, tetapi siap memimpin perubahan.
Tanoto Foundation, melalui inisiatif TELADAN dan SDG Academy, telah berhasil menanamkan benih yang tepat di tanah yang subur. TSA Brawijaya adalah bukti bahwa ketika akses pendidikan berkualitas bertemu dengan kurikulum kepemimpinan yang tepat, hasilnya adalah solusi yang berdampak nyata bagi permasalahan bangsa. Jejak langkah Rachel dan kawan-kawan adalah living proof bahwa masa depan Indonesia ada di tangan yang tepat. [dan/beq]






