Malang (beritajatim.com) – Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, MM., mengungkapkan posisi strategis Jawa Timur dalam industri susu nasional. Dari total sekitar 500 ribu ekor sapi perah di Indonesia, 300 ribu ekor atau 62 persen di antaranya berada di Jawa Timur.
“Kita tahu bahwa sapi perah di Indonesia kurang lebih jumlahnya hanya 500 ribu ekor. Di Jawa Timur sendiri ada 300 ribu ekor, sehingga hampir 62 persen itu ada di Jawa Timur,” ungkap Indyah Aryani di sela-sela acara peluncuran U.S. Indonesia Dairy Partnership (USIDP) di Malang, Rabu (23/7/2025).
Indyah menegaskan, dominasi tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai tumpuan utama nasional untuk produksi susu. Apalagi, kebutuhan konsumsi susu nasional masih sangat tinggi dan 80 persen di antaranya dipenuhi dari impor.
Menjawab tantangan ini, U.S. Dairy Export Council (USDEC) bersama New Mexico Department of Agriculture (NMDA), New Mexico State University (NMSU), dan DairyPro Indonesia meluncurkan program U.S. Indonesia Dairy Partnership (USIDP) di Jawa Timur. Peluncuran dilakukan di Grand Mercure Malang Mirama, ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara USDEC dan Universitas Brawijaya (UB).
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas peternak melalui pelatihan berbasis digital agar mampu mencapai standar global. Jonathan Gardner, Senior Vice President USDEC, menyatakan optimisme terhadap kolaborasi ini.
“Program ini bertujuan membantu para peternak Indonesia menjadi lebih baik dalam pekerjaan mereka. Kami berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan industri susu di Indonesia,” ujarnya.
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyatakan dukungan penuh kampusnya terhadap pengembangan peternakan sapi perah. “Universitas Brawijaya berkomitmen penuh mendukung pengembangan peternakan sapi perah. Kemitraan ini akan menjadi jembatan penting bagi akademisi, peneliti, dan peternak untuk bersama-sama mendorong kemajuan industri susu nasional,” ujarnya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Dr. Drh. Agung Suganda, M.Si., menyoroti tantangan rendahnya kepemilikan sapi perah oleh peternak rakyat yang rata-rata hanya memiliki 2–5 ekor dengan pemeliharaan konvensional.
“Inilah yang terus kita lakukan edukasi melalui basis digital ini. Tujuannya agar para peternak kita sadar bahwa untuk meningkatkan produksi, butuh manajemen pemeliharaan yang lebih baik,” jelas Agung Suganda.
Ia juga menyinggung adanya captive market melalui Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah. “Ini menjadi pasar yang siap menyerap susu segar dari peternak kita. Kita semua tahu, susu memiliki nilai nutrisi lengkap yang sangat dibutuhkan untuk menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Di sisi lain, kebutuhan industri pengolah susu (IPS) di Jatim yang mencapai 2.000 ton per hari belum sepenuhnya bisa dipenuhi oleh produksi lokal. Saat ini, produksi peternak baru mencukupi sekitar 1.200 ton per hari.
“Kekurangan ini setara dengan kebutuhan sekitar 50 ribu ekor sapi laktasi. Ini butuh upaya luar biasa,” terang Indyah. Untuk itu, Pemprov Jatim mendorong model kemitraan dengan melibatkan investor dan sektor swasta, salah satunya dengan Greenville yang memitrakan 1.080 ekor sapi kepada peternak.
Selain itu, Pemprov juga mendorong standarisasi higienis dengan menargetkan peternakan memiliki sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV), serta membuka kantong-kantong peternakan baru di wilayah timur seperti Bondowoso dan Banyuwangi.
Kerja sama riset dengan perguruan tinggi juga menjadi pilar penting. UB, misalnya, mengembangkan riset adaptasi sapi perah di dataran rendah dan tinggi melalui fasilitas di Yubi Forest dan Jatikerto.
Seminar internasional yang menjadi bagian dari peluncuran USIDP turut menghadirkan berbagai pakar. Prof. Dr. Ir. Tri Eko Susilorini mengangkat tema transformasi peternakan mikro, sementara drh. Cecep Muhammad Wahyudin dari KADIN menyoroti rantai pasok dingin. Ketua KUTT Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menegaskan pentingnya peran koperasi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas.
Program ini juga langsung bergerak dengan pelatihan awal bagi 40 peternak dari GKSI dan 20 calon pelatih dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Materi pelatihan disampaikan oleh para ahli seperti Dr. Robert Hagevoort (NMSU), Prof. Dr. Ir. Epi Taufik (IPB University), dan Dr. drh. Langgeng Priyanto (UB). [dan/beq]






