Surabaya (beritajatim.com)- Mitos penggunaan pasta gigi sebagai pertolongan pertama pada luka bakar masih sangat melekat di masyarakat. Banyak orang percaya bahwa rasa “nyess” atau dingin dari pasta gigi bisa langsung meredakan perih pada kulit yang terkena panas.
Padahal, secara medis tindakan ini termasuk keliru dan bisa berdampak buruk pada jaringan kulit. Alih-alih mendinginkan luka, kandungan dalam pasta gigi bisa menutup permukaan kulit seperti lapisan penutup.
Akibatnya, panas yang masih tersisa di kulit menjadi terjebak di bawah lapisan tersebut. Panas yang terperangkap ini bisa terus merusak jaringan kulit dan membuat luka menjadi lebih dalam seiring waktu.
Kandungan Kimia yang Bisa Mengiritasi
Kulit yang terkena luka bakar sebenarnya sangat sensitif dan mudah mengalami iritasi. Sementara itu, pasta gigi dibuat untuk membersihkan permukaan keras seperti gigi, bukan untuk kulit yang sedang meradang. Di dalam pasta gigi terdapat bahan abrasif seperti kalsium karbonat dan deterjen seperti sodium lauryl sulfate.
Bahan-bahan ini cukup keras bagi luka terbuka dan bisa memicu iritasi yang lebih berat.
Selain itu, sensasi dingin dari mentol atau mint sebenarnya hanya memberi rasa nyaman sementara. Pada luka bakar, bahan tersebut justru bisa memperparah iritasi. Risikonya akan semakin besar jika luka terjadi di area wajah. Jika pasta gigi mengenai mata, kandungan pH yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan kornea yang bersifat permanen.
Risiko Infeksi dan Bekas Luka
Hal lain yang sering tidak disadari adalah soal kebersihan produk. Pasta gigi bukan produk steril yang dibuat khusus untuk merawat luka.
Jika dioleskan pada kulit yang melepuh atau terbuka, bakteri bisa lebih mudah masuk ke dalam luka. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi dan membuat bekas luka menjadi lebih parah di kemudian hari. Karena itu, penting untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan bahan rumahan yang belum terbukti aman, dan beralih ke langkah penanganan yang lebih tepat secara medis.
Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan saat mengalami luka bakar? Langkah pertama yang paling penting adalah menggunakan air mengalir. Basuh area luka dengan air bersuhu normal, bukan air es, selama minimal 20 menit. Cara sederhana ini terbukti dapat membantu mengurangi nyeri, mencegah pembengkakan, dan membatasi kerusakan jaringan kulit.
Setelah suhu kulit mulai stabil, oleskan sedikit petroleum jelly untuk menjaga kelembapan kulit dan melindungi luka dari udara luar. Tutup luka dengan perban steril yang tidak lengket. Satu hal penting yang perlu diingat, jangan memecahkan lepuhan yang muncul. Lapisan kulit tersebut berfungsi sebagai pelindung alami tubuh dari infeksi.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meski pertolongan pertama bisa dilakukan di rumah, ada beberapa kondisi yang membutuhkan penanganan medis. Segera periksakan diri ke dokter jika luka bakar lebih luas dari telapak tangan, atau terjadi di area sensitif seperti wajah, persendian, dan alat kelamin.
Luka bakar akibat listrik atau bahan kimia juga memerlukan penanganan khusus. Selain itu, segera cari bantuan medis jika muncul tanda infeksi seperti nanah, bau tidak sedap, atau demam tinggi. Perlu diingat, pasta gigi dibuat untuk menjaga kebersihan gigi, bukan untuk mengobati luka bakar pada kulit. [Meychel Salsablya]






