Bojonegoro (beritajatim.com) – Kerusakan parah pada sejumlah ruas jalan nasional yang melintasi Kabupaten Bojonegoro kini menjadi ancaman mematikan bagi para pengendara yang melintas. Jalur utama penghubung Bojonegoro–Babat hingga arah Ngawi ini dipenuhi lubang dan gelombang aspal yang memicu tingginya angka kecelakaan lalu lintas.
Kondisi paling memprihatinkan terpantau di ruas Kecamatan Kapas hingga Baureno dengan lubang berbagai ukuran yang menghiasi permukaan jalan. Bahaya kian meningkat saat malam hari atau ketika hujan turun, karena lubang yang tertutup air sering kali tidak terlihat oleh pengguna jalan.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Bojonegoro, Ipda Septian Nur Pratama, menjelaskan bahwa kerusakan aspal diperparah oleh lonjakan volume kendaraan bertonase besar. Banyak pengemudi truk memilih melintasi Bojonegoro demi menghindari jalur Pantura yang mengalami kerusakan jauh lebih parah.
“Kemungkinan karena mengarah ke Tol Ngawi atau jalur alternatif lewat tengah yang jaraknya lebih dekat dan kondisi jalannya relatif lebih baik dibanding jalur Pantura yang rusak cukup parah,” jelas Ipda Septian, Jumat (23/1/2026). Tingginya mobilitas kendaraan berat ini mempercepat kerusakan struktur jalan nasional yang sudah tidak stabil.
Data statistik dari Satlantas Polres Bojonegoro menunjukkan angka kecelakaan yang sangat mengkhawatirkan selama satu tahun terakhir. Tercatat sebanyak 990 kasus kecelakaan terjadi di wilayah ini dengan total korban meninggal dunia mencapai 182 orang.
“Kondisi jalan berlubang ini sangat berpengaruh terhadap keselamatan pengguna jalan. Banyak pengendara yang menghindari lubang secara mendadak, sehingga rawan terjadi kecelakaan,” tambah Ipda Septian.
Pihak kepolisian mengaku telah melakukan langkah koordinasi dengan instansi terkait untuk mendesak percepatan perbaikan permanen di titik-titik rawan. Saat ini, upaya penanganan awal berupa penambalan lubang jalan sudah mulai dikerjakan di beberapa sektor.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Mulai Rabu kemarin, penambalan jalan sudah dilakukan dari wilayah Kapas ke arah timur,” terang Ipda Septian mengenai tindakan di lapangan.
Meski demikian, langkah pemerintah tersebut mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Bambang Sutriyono, yang menilai penanganan masih bersifat semu. Ia berpendapat bahwa pola penambalan sementara tidak akan menyelesaikan akar persoalan infrastruktur di jalur nasional tersebut.
“Kerusakan ini sudah berlangsung lama dan penanganannya hanya tambal sulam. Padahal lubangnya banyak, dari yang kecil sampai besar dan cukup dalam. Kondisi ini sangat rawan kecelakaan, merusak kendaraan, bahkan menyebabkan ban pecah,” ujarnya dengan nada tegas.
Bambang memperingatkan pemerintah pusat agar segera melakukan perbaikan menyeluruh sebelum lebih banyak jatuh korban jiwa di jalanan. Selain masalah keselamatan, kerusakan jalan yang berlarut-larut ini dipastikan menghambat distribusi logistik dan roda ekonomi masyarakat antar daerah. [lus/beq]






