Pandangan Acep Subhan Saipudin menyapu deretan lukisan yang terpajang di hadapannya. Terkadang Acep mendekatkan wajahnya ke lukisan itu agar bisa melihat lebih detail. Lukisan yang dipandang oleh Acep berlama-lama adalah kaligrafi. Ada gambar kabah di lukisam itu. Di sekeliling kabah itu ada untaian huruf arab yang indah.
Pria kelahiran Tasikmalaya Jawa Barat ini kemudian bergeser ke karya lukis lainnya. Lagi-lagi Acep mengamati dengan seksama lukisan di atas kanvas dengan tema lain itu. Memandangnya berlama-lama. “Semuanya bagus-bagus,” kata Acep yang didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Jombang Dian Yunita Sari, Senin sore (31/10/2022).
Pameran lukisan itu digelar oleh Kopijo (Komunitas Pelukis Jombang). Tempatnya di aula Disdikbud setempat. Pameran dengan tema ‘unity’ ini digelar mulai 28 Oktober hingga 1 November 2022. Lantas siapa Acep? Kedatangan Acep ke lokasi pameran ini bukan sebagai seniman, meski dirinya memiliki hobi melukis. Acep hadir sebagai penikmat seni.
[berita-terkait number=”3″ tag=”seni-lukis”]
Itulah cara Acep untuk melakukan penyegaran di tengah kesibukaanya membongkar kasus-kasus hukum di Kabupaten Jombang. Acep seorang jaksa. Di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang, dia menjabat sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus). Sebelum pindah ke Jombang, Acep bertugas di Kejari Sintang Kalbar (Kalimantan Barat).
“Kedatangan saya atas nama pribadi. Saya sangat mengapresiasi pameran lukisan yang digelar di aula Disdikbud Jombang ini. Karena hal itu bisa mengembangkan bakat para pelukis di Jombang. Selain itu pameran tersebut juga bisa memfasilitasi karya-karya terbaik seniman Jombang,” ujar Acep.
Acep mengakui dirinya memiliki hobi melukis. Di kala senggang, dia menggoreskan kuas di atas kanvas. “Saya tidak fanatik dengan aliran tertentu dalam melukis. Semuanya saya suka. Saya berharap kegiatan seperti ini rutin dilakukan. Sebagai wadah pelukis untuk berekspresi,” urainya.
Namun demikian, ke depan Acep berharap pameran lukisan tersebut tidak hanya digelar di gedung. Karena yang menikmati hanya orang-orang tertentu. Hal itu berbeda jika karya lukis dipamerkan di pinggir jalan. “Semisal dipamerkan di Jl KH Wahid Hasyim saat car free day (CFD). Selain untuk keindahan kota, masyarakat umum juga bisa menikmatinya,” pungkas Acep. [suf]






