Jombang (beritajatim.com) – Pertumbuhan kos-kosan dan masalah pengelolaan sampah menjadi topik utama dalam acara Jagongan Gayeng (Jaga) Kota Santri yang digelar oleh Kecamatan Diwek, bekerja sama dengan Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) pada Selasa malam, 28 Oktober 2025. Acara yang bertempat di kantor kecamatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, yang juga membuka kegiatan rutin ini.
Dalam sambutannya, Gus Salman, panggilan akrab Wabup Jombang, menegaskan komitmennya untuk menampung setiap masukan, kritik, dan saran dari masyarakat yang hadir. “Tugas saya menerima menampung dan melaporkan kepada abah bupati,” ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa meskipun Bupati Jombang berhalangan hadir karena kegiatan di Surabaya, usulan dari warga tetap akan diteruskan ke tingkat pemerintah kabupaten.
Acara Jagongan Gayeng yang mengusung tema “Pertumbuhan Kos-Kosan dan Pengelolaan Sampah” menjadi forum bagi warga untuk berbagi persoalan yang mereka hadapi, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Diwek.
Diwek, sebagai salah satu kawasan yang dekat dengan Pondok Pesantren Tebuireng dan sejumlah destinasi wisata religi Gus Dur, mengalami pertumbuhan kos-kosan yang pesat. Hal ini berdampak langsung pada jumlah pengunjung dan tingkat sampah yang semakin tinggi.
Kepala Desa Cukir, Sawung Agus Basuki, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pertumbuhan kos-kosan dan penginapan di daerahnya cukup signifikan. “Keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng dan kawasan wisata Gus Dur menjadi pemicu pertumbuhan tempat singgah bagi wali santri maupun pengunjung wisata,” ujarnya.
Namun, Agus Basuki juga menyampaikan kendala yang mereka hadapi, yaitu tidak adanya aturan yang khusus mengatur pengelolaan kos-kosan dan penginapan, yang membuat pemerintah desa kesulitan dalam menanggulangi masalah ini.
Selain itu, dampak dari semakin banyaknya kos-kosan dan penginapan adalah meningkatnya volume sampah. Hal ini menjadi perhatian penting, karena pengelolaan sampah di kawasan ini belum sepenuhnya teratur. “Penting adanya aturan yang pasti sehingga pengawasannya lebih aman,” ungkapnya.

Dialog dalam acara ini berlangsung dengan sangat akrab, dipandu oleh Purwanto, Asisten Pemerintahan Kabupaten Jombang bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan persoalan mereka dengan cara santai namun penuh makna, sehingga diskusi berjalan sangat dinamis dan penuh keakraban.
Purwanto yang lebih akrab dipanggil Cak Gempur memberikan ruang bagi setiap peserta untuk berbicara dan menyampaikan keluhan serta solusi yang mereka anggap relevan.
Beberapa pihak terkait juga turut hadir dalam pertemuan ini, di antaranya dari Kepolisian yang diwakili Kabag Ops Kompol Syarlis, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Miftahul Ulum, serta Satuan Polisi Pamong Praja yang diwakili oleh Supakun. Selain itu, ada pula anggota DPRD Kabupaten Jombang, Junita Erma Zakiyah, serta kepala desa se-Kecamatan Diwek yang memberikan perhatian pada masalah ini.
Agus Sholihudin, Camat Diwek, menilai bahwa Jaga Kota Santri adalah cara yang paling efektif untuk menggali potensi, masalah, dan solusi bersama. “Jaga Kota Santri ini menjadi cara untuk saling mendekatkan, menerima masukan, dan mengusulkan kegiatan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama,” ucapnya. [suf]






