RINGKASAN BERITA:
- Pendorongan massal jemaah haji Indonesia dari hotel Makkah ke Arafah dimulai Senin, 25 Mei 2026 dalam tiga gelombang.
- Pelaksanaan inti wukuf di Padang Arafah dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026 mulai pukul 10.00 WAS.
- Kemenhaj mengerahkan Satuan Operasional Armuzna guna mengendalikan pergerakan jutaan jemaah secara bertahap dan terukur.
- Hingga hari ke-29 operasional, akumulasi jemaah reguler yang telah memadati Kota Makkah menembus 182.332 orang.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi merilis jadwal serta rute pergerakan massal jemaah haji reguler menuju fase puncak Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Skenario mobilisasi ini dirancang secara ketat menggunakan sistem gelombang berjadwal guna mengantisipasi risiko penumpukan manusia dan kemacetan total di jalur penghubung Masyair.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, ketepatan waktu pergerakan ini menjadi titik krusial perlindungan jemaah mengingat cuaca panas ekstrem di Makkah berfluktuasi pada angka 44 derajat Celsius.
Hingga hari ke-29 operasional per Selasa (19/5/2026), grafik kedatangan mencatat sebanyak 182.332 jemaah reguler dari 472 kloter telah berkumpul memadati akomodasi hotel di Makkah.
Secara kumulatif, total jemaah haji reguler yang telah bertolak dari tanah air mencapai 186.041 orang (481 kloter) dengan kawalan 1.919 petugas. Sementara arus gelombang kedua via Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, membukukan kedatangan 79.945 jemaah (208 kloter), dilengkapi masuknya 13.180 jemaah haji khusus yang mulai merapatkan barisan ke pemondokan Kota Suci, termasuk kelompok terbang asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan bahwa penataan arus logistik manusia di Armuzna merupakan fase paling kompleks dalam penyelenggaraan rukun Islam kelima.
“Karena itu, pengaturan mobilitas, disiplin jadwal, kepatuhan terhadap arahan petugas, dan kesiapan fisik jemaah menjadi sangat penting. Kemenhaj telah membentuk Satuan Operasional Armuzna untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan bertahap, terukur, dan berbasis mitigasi kepadatan,” urai Maria dalam keterangan resminya.
Rincian Gelombang dan Jam Keberangkatan Menuju Arafah
Skenario pendorongan jemaah dari pemondokan Makkah menuju Padang Arafah dipastikan dimulai pada 8 Dzulhijjah 1447 H atau Senin, 25 Mei 2026. PPIH membagi proses penjemputan armada bus ke dalam tiga gelombang waktu Arab Saudi (WAS), yakni gelombang pertama pukul 06.00 WAS, gelombang kedua pukul 11.30 WAS, dan gelombang terakhir pukul 17.30 WAS. Otoritas menargetkan seluruh hotel jemaah Indonesia dalam kondisi steril pada pukul 24.00 WAS.
“Jemaah kami imbau tidak berada di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan agar tidak terjadi penumpukan. Tetap bersama rombongan, bawa perlengkapan secukupnya, selalu membawa identitas, dan jaga kondisi tubuh,” imbau Maria.
Selanjutnya, pelaksanaan inti wukuf di Arafah sebagai episentrum ritual haji dijadwalkan berlangsung pada 9 Dzulhijjah atau Selasa, 26 Mei 2026, mulai pukul 10.00 hingga 13.00 WAS. Selepas Maghrib atau tepat pukul 19.00 WAS, bus taraddudi akan mulai mengevakuasi jemaah menuju Muzdalifah.
Bagi jemaah lansia, disabilitas, dan risti yang masuk dalam kuota skema murur, armada bus dipastikan langsung meluncur menembus jalur cepat menuju tenda Mina tanpa turun menapakkan kaki di hamparan terbuka Muzdalifah. Langkah darurat ini diterapkan guna melindungi stamina kelompok rentan dari ancaman kelelahan kronis.
Alur Non-Murur, Badal Lontar, dan Pilihan Nafar
Sementara itu, pergerakan bagi jemaah non-murur atau kelompok bugar dari Muzdalifah menuju Mina akan digulirkan bertahap mulai pukul 23.00 WAS hingga keesokan harinya pukul 07.00 WAS bertepatan dengan 10 Dzulhijjah (Rabu, 27 Mei 2026).
Setibanya di Mina, jemaah dijadwalkan melaksanakan lontar jumrah Aqabah mulai pukul 10.00 WAS sebelum kembali ke tenda masing-masing untuk mabi.
Kemenhaj melarang keras jemaah risti memaksakan diri berjalan kaki sejauh 4,5 kilometer melintasi Terowongan Muaisim menuju Jamarat jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
“Jangan memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Syariat memberikan keringanan melalui mekanisme badal lontar bagi jemaah yang memiliki uzur,” papar Maria tegas.
Pada fase mabit di Mina tanggal 11 hingga 13 Dzulhijjah (28–30 Mei 2026), jemaah akan menyelesaikan lontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqobah sesuai jadwal kloter.
PPIH membagi kepulangan jemaah menjadi dua opsi, yakni jemaah nafar awal yang dijadwalkan meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah, serta kelompok nafar tsani yang bertahan menyelesaikan ibadah hingga 13 Dzulhijjah.
Guna menjamin keamanan konsumsi, pemerintah telah menyiagakan skema pemisahan konsumsi berupa 15 porsi makanan siap santap (ready to eat) Nusantara selama di Armuzna dan 6 porsi di hotel pemondokan.
“Patuhi jadwal, ikuti arahan resmi, jangan bepergian sendiri, jaga kekompakan, dan hemat tenaga menuju puncak haji. Kemenhaj akan terus melakukan monitoring 24 jam untuk memastikan layanan kesehatan, transportasi, konsumsi, dan mitigasi kepadatan berjalan optimal,” pungkas Maria. [ian/MCH]






