Pasuruan (beritajatim.com) – Peningkatan penyebaran virus covid mengakibatkan klaster sekolah di Kota Pasuruan semakin meluas. Sebanyak 13 sekolah di Kota Pasuruan terpaksa harus menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) secara penuh.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, Dr Shierly Marlena membenarkan jika pada awal bulan Februari makin banyak bermuncul kluster sekolah di Kota Pasuruan. Sehingga dari 13 sekolah harus melakukan PTM. “Saat ini sudah bisa dikatakan kluster sekolah. Kami pun melakukan penutupan untuk 13 sekolah yang terpapar Covid-19, ” ujar Shierly.
Lebih lanjut Shierly menyebutkan bahwa belasan sekolah yang ditutup tersebut terdiri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Dari jenjang sekolah dasar, yang ditutup diantaranya SD Kebonsari, SD Krapyak, SD Tembokrejo, SD Sebani, SD Bugul Kidul, SD Karanganyar, SD Pekuncen, dan SD Petamanan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”PTM”]
Sementara untuk jenjang SMP, hanya SMP 3 dan SMP 5 yang ditutup. Kemudian di jenjang SMA, ada SMA 1, SMA 2, SMA 4, dan SMA Speam Putri. “Untuk sekolah dimasih belum terpapar masih mengikuti kebijakan diskresi SKB 4 Mentri. Yakni melakukan PTM dengan maksimal kapasitas 50 persen, ” ungkapnya.
Dinas Kesehatan Kota Pasuruan kini masih terus melakukan upaya tracing kepada warga sekolah yang memiliki kontak erat dengan pasien covid-19. “Upaya tracing masih terus dilakukan, saat ini totalnya ada 21 guru dan murid dari 13 sekolah yang terkonfirmasi positif covid, ” ungkapnya.
Menurut Dr Shierly, asal penularan virus covid diantara para guru dan murid ini juga beragam. Ada yang dinyatakan positif setelah dirawat di rumah sakit. Ada pula yang memang punya kontak erat dengan pasien covid dari kluster sekolah. “Ada yang ditemukan positif saat sakit di RSUD Purut. Ada yang tertular dari orang tuanya yang jadi guru dan mengajar di sd Kebonsari, ” imbuhnya.
Meskipun begitu, Shierly memastikan bahwa dari 21 guru dan murid tersebut tidak ada yang sampai di rawat di rumah sakit. Mereka terkonfirmasi positif covid namun tanpa gejala atau OTG. “Karena tanpa gejala, semuanya disolasi dirumah masing-masing. Apalagi ada yang masih anak-anak juga, ” pungkasnya. (ada/kun)






