Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem monitoring tanah dan hama berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung efisiensi pemupukan petani di Desa Ngimbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Program pengabdian masyarakat ini diterapkan pada 2025 bekerja sama dengan Gapoktan Manunggal Rejeki.
Ketua tim pengabdi ITS, Katherin Indriawati, mengatakan sistem tersebut dirancang sebagai alat bantu pengambilan keputusan berbasis data lapangan. Fokus utamanya adalah memantau kondisi tanah dan lingkungan secara real time.
Sistem monitoring memungkinkan petani mengetahui tingkat kesuburan tanah, kelembapan, keasaman, serta kandungan unsur hara utama seperti nitrogen, fosfor, dan kalium melalui gawai. Data dikirim secara berkala menggunakan teknologi IoT.
“Selama ini petani menentukan pemupukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Dengan sistem ini, keputusan bisa diambil berdasarkan data aktual di lapangan,” ujar Katherin, Selasa (23/12/2025).
Sebelum pemasangan alat, tim ITS melakukan pra-kunjungan untuk memetakan kondisi lahan sawah di Desa Ngimbang. Observasi dilakukan terhadap karakteristik fisik tanah, pola pemupukan, serta kondisi hama di area pertanian.
Hasil pemetaan menunjukkan petani kesulitan menentukan dosis pupuk yang tepat akibat keterbatasan data kondisi tanah. Selain itu, hama dinilai menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penurunan produktivitas panen.
Berdasarkan temuan tersebut, tim merancang perangkat monitoring yang mengintegrasikan sensor tanah, sensor lingkungan, modul transmisi data jarak jauh, serta alat pengusir hama burung. Seluruh perangkat diuji langsung di lahan sawah mitra.
Setelah pengujian dinyatakan layak, alat diserahkan kepada petani disertai pelatihan teknis penggunaan dan perawatan. Mahasiswa KKN Teknik Fisika ITS terlibat dalam pendampingan operasional di lapangan.
Pendampingan dilakukan untuk memastikan petani dapat mengoperasikan sistem secara mandiri. Petani juga menerima buku panduan yang memuat prosedur pengoperasian, kalibrasi, dan pengecekan berkala alat.
Implementasi sistem menunjukkan perubahan pada pola pengelolaan lahan. Petani kini dapat memantau kondisi sawah tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Data sensor digunakan sebagai dasar penentuan waktu dan dosis pemupukan. Sistem juga memberikan peringatan dini jika terdeteksi kondisi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, termasuk perubahan kelembapan dan keberadaan hama.
Mahasiswa KKN ITS menilai teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh petani Desa Ngimbang. Penerapan IoT di sektor pertanian diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan pertanian berbasis data. [ipl/kun]






