Liverpool (beritajatim.com) – Apa yang akan dilakukan sebuah klub jika memiliki bintang dengan kontribusi 50 gol dalam semusim? Mempertahankan pemain tersebut dengan kontrak jangka panjang atau mungkin hingga dia pensiun jadi pilihan paling masuk akal.
Tetapi, yang terjadi untuk Mohamed Salah justru berbalik 180 derajat. Kontrak wide attacker 32 tahun itu bersama Liverpool FC bakal kedaluwarsa per 1 Juli mendatang dan belum ada tanda-tanda bakal diperpanjang dalam waktu dekat.
Padahal, kontribusinya musim ini tidak main-main. Dari 38 laga yang dimainkan, Mo–sapaannya–mengemas 50 kontribusi gol. Rinciannya, 30 gol dan 20 assist.
Angka tersebut memang masih kalah dibandingkan 58 kontribusi gol pada debutnya bersama LFC musim 2017–2018. Tetapi, itu diukur di akhir musim dengan Salah yang memainkan total 52 pertandingan.
Artinya, musim ini sangat mungkin dia bakal melampaui catatannya itu. Tetapi, ironisnya prestasi tersebut juga bisa sekaligus jadi perpisahan baginya dengan The Reds.
“Mungkin banyak orang yang lebih memilih performaku pada musim debutku. Tetapi, aku lebih suka saat ini karena membantu banyak muda untuk berkembang. Kami para personel senior ingin memenangi gelar (Premier League musim ini, Red),” papar Salah dilansir AFP setelah mengantarkan LFC mengalahkan Manchester City dini hari tadi.
Pernyataan kapten timnas Mesir itu secara implisit seperti pesan perpisahan. Bagaimana pun, ini akan menjadi musim terakhirnya bersama LFC dan klub akan kehilangan dia secara gratis
Pekan lalu, jurnalis Mesir Ahmed Atta via TEAMtalk membeberkan fakta bahwa handicap utama perpanjangan kontrak Salah adalah gaji. LFC menginginkan adanya pemotongan gaji bagi Salah yang akan berusia 33 tahun per 15 Juni mendatang atau 15 hari sebelum kontraknya berakhir.
Saat ini dia digaji GBP 350 ribu (Rp7,2 miliar) per pekan. Tidak ada pemain LFC yang menyamainya. Sedangkan pihak Salah menginginkan perpanjangan minimal dengan nominal serupa. Dengan produktivitas yang ditunjukkannya, dengan kondisi fisik yang masih terjaga, dan dengan efek besar bagi tim sangat dipahami bahwa mereka layak menerimanya.
Tetapi, manajemen The Reds juga memiliki standar bahwa pemain dengan usia kepala tiga tidak akan mendapat gaji seperti di usia emas mereka atau durasi kontrak melebihi dua musim. Contoh konkret untuk itu telah terbukti dalam empat tahun terakhir. Dimulai dari Georginio Wijnaldum ke Paris Saint-Germain pada 2021 saat usianya 31 tahun. Setahun kemudian giliran Sadio Mane yang berusia 30 tahun dilepas ke Bayern Munchen. Di 2023, ada Jordan Henderson yang berusia 33 tahun dan Roberto Firmino (31 tahun) yang sama-sama dilepas ke Saudi Premier League.
Semua pemain tersebut merupakan skuad LFC ketika meraih segalanya bersama tactician Jurgen Klopp. Tentunya, juga ada Salah bersama mereka.
Manajemen LFC boleh saja masih ngotot memperlakukan Salah dengan aturan yang sama seperti beberapa pemain sebelumnya. Masalahnya, di LFC saat ini belum ada yang menandingi kontribusi Salah. Diogo Jota dan Federico Chiesa rentan cedera. Luis Diaz inkonsisten. Karakter Cody Gakpo lebih ke penyelesai peluang daripada karakter playmaker seperti Salah.
“Semuanya (yang ada di LFC, Red) ingin dia (Salah, Red) bertahan. Pasti banyak tim di berbagai negara juga menginginkannya. Dia cukup dewasa untuk memutuskannya (terkait kontrak, Red) dan ku harap itu juga terbaik bagi kami,” ujar tactician LFC Arne Slot kepada BBC.
Untuk situasi dan kondisi tentang Salah, tidak ada salahnya manajemen LFC membuat pengecualian. Jika tidak, ancaman performa terjun bebas musim depan bisa jadi kenyataan. [dio/beq]






