Akankah Amerika Serikat (AS) bakal menyerang Iran? Dalam catatan sejarah, relasi kedua negara ini putus setelah revolusi Islam pecah di Iran pada Februari 1979. Ayatullah Ruhollah Khomeini mengubah sistem politik Iran dari Monarki Konstitusional menjadi Republik Islam. Negara berpenduduk 92 juta jiwa ini dikendalikan para mullah dalam sistem pemerintahannya.
Pasca-revolusi Islam 1979, pengaruh AS jebol dan terhapus dari Iran. AS dan Israel jadi musuh bebuyutan dari negara dengan mayoritas penduduknya menganut Islam Syiah. Negeri Para Mullah ini menjadi leader dan kiblat bagi umat Syiah di banyak negara di dunia.
Revolusi Islam Iran menandai babak baru sistem politik negara dengan nama kuno Persia ini setelah lebih dari 30 tahun diperintah Shah Iran yang pro-Barat dan mendukung westernisasi dan sekulerisasi politik. Paham politik yang memisahkan urusan politik dengan ranah keagamaan. Westernisasi dan sekulerisasi dinilai antitesis dengan nilai-nilai keagamaan dan kultur masyarakat Iran.
Iran dalam tempo 46 tahun terakhir (1979-2026) merupakan model negara berdasar agama (Islam) yang tidak pro-Barat, khususnya AS dan Israel. Revolusi Islam Iran pada 1979 telah menumbangkan sistem politik monarki despotik yang represif dan tak segan menerapkan kekerasan kepada rakyatnya, khususnya kalangan oposan.
Anehnya, sistem politik ini di-back up secara politik oleh negara-negara Barat dan Amerika, yang selalu mengagung-agungkan nilai-nilai demokrasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Revolusi Islam Iran menjadi salah satu bagian penting dari tiga puncak revolusi di dunia. Secara garis besar ada tiga revolusi politik penting di lanskap politik modern. Pertama, Revolusi Prancis pada 1789–1799. Periode itu diwarnai dengan pergolakan politik dan sosial radikal di Prancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Prancis dan Eropa secara keseluruhan.
Revolusi ini merupakan salah satu dari revolusi besar dunia yang mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Revolusi Prancis memicu perubahan secara cepat, radikal, dan mendasar. Sistem monarki absolut yang telah memerintah Prancis selama berabad-abad runtuh hanya dalam waktu tiga tahun.
Saat itu, rakyat Prancis mengalami transformasi sosial politik yang epik. Feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak dihapus oleh kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di pedesaan.
Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat, dan gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba. Berganti dengan prinsip-prinsip baru: Liberté, égalité, dan fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).
Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lain di seluruh Eropa, yang berupaya mempertahankan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Revolusi Prancis digerakkan nilai-nilai liberalisme dan individualisme.
Kedua, Revolusi Bolshevik atau Revolusi Oktober 1917 di Rusia yang dipimpin Vladimir Ilyich Lenin. Revolusi ini digerakkan oleh nilai-nilai Komunisme, yang bertujuan menggulingkan pemerintahan sementara di Rusia dan mendirikan pemerintahan komunis, mengarah pada pembentukan Uni Soviet.
Revolusi ini bertujuan mewujudkan janji “perdamaian, tanah, dan roti” kepada rakyat yang lelah perang dan menderita kemiskinan. Selain itu, mengubah Rusia menjadi republik sosialis pertama di dunia berdasarkan paham Marxisme-Leninisme.
Secara praksis, revolusi Bolshevik di Rusia, yang kemudian berkembang dengan pembentukan negara Uni Soviet, mengilhami banyak gerakan perlawanan politik dan bersenjata di banyak negara. Khususnya di negara-negara Dunia Ketiga yang mengalami kolonialisme dan imperialisme selama ratusan tahun.
Paham Komunisme-Leninisme berkembang pesat dan memenangkan pertempuran politik dan militer di China, Vietnam, Kuba, dan banyak negara lain. Mao Zedong (China), Fidel Castro (Kuba), dan Ho Chi Minh (Vietnam) menjadi bapak kemerdekaan negaranya masing-masing, karena keberanian, kerja keras, dan strategi cerdiknya menghempaskan kolonialisme dari negaranya masing-masing.
Bagaimana Revolusi Islam Iran? Revolusi yang berlangsung pada 11 Februari 1979, berujung pada penggulingan rezim monarki dan berganti dengan pembentukan negara Republik Islam Iran.
Revolusi Islam Iran melibatkan partisipasi berbagai kalangan masyarakat Iran, dari sayap kiri sekuler hingga sayap kanan religius, yang menginginkan berakhirnya otokrasi Shah dan campur tangan Barat dalam kebijakan negara. Spirit Islamisme Syiah yang mengilhami dan mendorong gerakan revolusi Islam ini.
Hasil revolusi ini terwujud dalam bentuk Islam Syiah, yang oleh banyak pemimpin dan pendukungnya dinilai sebagai elemen pemersatu identitas dan budaya Iran. Pada akhirnya Iran berada di bawah kepimpinan Ruhollah Khomeini, seorang cendekiawan Syiah terkemuka dari Kota Qom, yang kritis terhadap Shah dan usianya sekitar 70 tahun lebih.
Revolusi Islam ini dipimpin dan dikendalikan seorang tokoh berusia lanjut. Hal itu berbeda dengan potret revolusi di banyak negara lain yang umumnya dipimpin leader berusia muda.
Tak hanya rezim monarki Shah Iran yang terguling. Revolusi Islam Iran ini men-delete, mengamputasi, dan meminimalisasi pengaruh Amerika dan banyak negara Barat di negara ini. Khususnya pengaruh politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Iran pra-revolusi identik dengan Westernisasi dan sekulerisasi. Iran pasca-revolusi merupakan tatanan sosial dan politik yang diwarnai nilai-nilai Islam (Syiah) yang kentaldan kultur lokal yang melembaga selama berabad-abad.
Relasi antara Iran dengan AS dan banyak negara Barat lain dalam perspektif sejarah-politik diwarnai konflik dan perbedaan prinsip, terutama di ranah politik, ekonomi, dan sosial. Gerakan politik yang mengarah kepada kemandirian dan kedaulatan Iran sebagai state dan bangsa dalam arti paripurna tak jarang mengalami benturan hebat dengan eskalasi tinggi, mengorbankan ribuan jiwa warga, akibat intervensi negara asing.
Sejarah mencatat pada tahun 1953, di tengah perebutan kekuasaan antara Mohammed Reza Shah dan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh, pimpinan eksekutif pemerintahan Iran yang berjuang menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak di Iran, ternyata berakhir kemenangan politik Mohammed Reza Shah karena dukungan negara-negara Barat.
Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) dan Dinas Intelijen Rahasia Inggris (MI6) mengatur kudeta terhadap pemerintahan Mosaddegh. Mohammed Reza Shah memproklamirkan Revolusi Putih setelah merebut tampuk kekuasaan eksekutif dari tangan Perdana Menteri (PM) Mosaddegh.
Revolusi Putih adalah program modernisasi agresif yang mengguncang kekayaan dan pengaruh pemilik tanah dan ulama, mengganggu perekonomian pedesaan, menyebabkan urbanisasi dan Westernisasi yang cepat, serta memicu kekhawatiran tentang demokrasi dan hak asasi manusia.
Program ini berhasil secara ekonomi, tapi manfaatnya tak terdistribusi secara merata. Indeks gini ratio masyarakat Iran saat itu skornya tinggi. Gap sosial ekonomi ini mendorong gerakan politik masif yang melibatkan semua segmen sosial dari spektrum ideologi berbeda. Dari ideologi politik kanan, tengah, dan kiri menyatu menjadi satu: Menempatkan rezim Shah Iran sebagai musuh bersama untuk digulingkan.
Cadangan Minyak
Dengan jumlah penduduk sekitar 92 juta jiwa, Iran masuk ranking 17 negara di dunia berpenduduk terbanyak. Posisi pertama ditempati China lalu disusul India. Kapasitas demografi besar merupakan akses sekaligus tantangan bagi negara ini, khususnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kualitas kesejahteraan sosial warga.
Sekitar 73 persen warga Iran bertempat tinggal di perkotaan, dengan komposisi demografi lebih besar sedikit kaum Adam dibanding kaum Hawa.
Dari sejumlah faktor yang mengakibatkan relasi buruk Iran dengan Amerika dan negara-negara Barat pada umumnya, faktor ekonomi potensi migas (minyak dan gas) yang berada di perut bumi negara Iran jadi salah satu penyebabnya.
Minyak jadi determinan utama dan pertama. Maklum di masa lalu, di era rezim politik Shah Iran, negara Barat, terutama Amerika dan Inggris, menguasai dan jadi pemain penting bisnis eksploitasi dan produksi minyak Iran.
Gagalnya nasionalisasi korporasi minyak Iran di era PM Mosaddegh di tahun 1950-an, karena campur tangan intelijen Amerika dan Inggris. Mosaddegh jatuh dan kendali pemerintahan Iran sepenuhnya di tangan Shah Reza.
Menempati posisi ketiga sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, jumlah cadangan minyak Iran mencapai 208 miliar barel.

Selain itu, posisi geografis negara ini dekat dengan Selat Hormuz memberikan pengaruh strategis terhadap pasokan global. Namun, sanksi ekonomi dan ketegangan geopolitik membuat potensi minyak Iran belum bisa dimaksimalkan sepenuhnya. Meski demikian, Iran tetap jadi pemain penting dalam stabilitas pasar energi dunia.
Selat Hormuz merupakan celah sempit antara Iran dan Oman. Tapi dalam dunia energi, tempat ini adalah urat nadi dunia. Setiap harinya, sekitar 20 persen pasokan minyak global, setara dengan puluhan juta barel yang mengalir melewati jalur ini.
Sekiranya penutupan total Selat Hormuz dilakukan Iran, gejolak harga minyak dunia dipastikan bakal langsung meledak. Jika Selat Hormuz ditutup, efeknya bisa sangat dahsyat. Kapal-kapal tanker dari Arab Saudi, Kuwait, hingga UEA akan terblokir. Pasokan minyak global bisa lumpuh dalam hitungan hari.
Bukan hanya harga minyak mentah yang melonjak tajam. Industri, logistik, dan ekonomi negara-negara besar bisa terguncang. Ancaman krisis energi global kini bukan sekadar skenario, tapi kemungkinan nyata jika eskalasi politik Iran versus Amerika-Israel dan sejumlah negara Barat lain tak mereda.
Eskalasi politik dan militer yang bergerak mendidih di sejumlah kawasan regional, terutama di Timur Tengah dan Amerika Latin, yang menghadapkan kepentingan Amerika versus banyak negara dunia ketiga lain, tak bisa dilepaskan dari politik minyak. Itu jadi faktor strategis.
Amerika ingin mengendalikan dan kepentingannya tak diganggu di Venezuela yang memiliki cadangan minyak 303 miliar barel. Tak heran Amerika menculik Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang berhaluan Sosialis dan kader ideologis Hugo Chavez.
Dengan Arab Saudi, Amerika sejak tahun 1930-an telah membangun relasi politik dan ekonomi yang erat. Sejak Saudi didirikan dan dipimpin Bani Ibn Saud dengan raja Abdul Aziz. Relasi itu terbangun sejak Presiden Amerika FD Roosevelt dan korporasi hulu migas dari Amerika kali pertama menemukan sumur minyak di Saudi. Lalu mengeksploitasi dan memproduksinya. Kini Saudi memiliki cadangan minyak sebesar 267 miliar barel.
Iran merupakan ‘halaman lain’ yang mesti dikuasai Amerika. Atau setidaknya mau mengakomodasi kepentingan Amerika, terutama di sektor energi. Dalam tempo 46 tahun terakhir, Republik Islam Iran jadi ‘musuh politik’ Amerika, Israel dan sejumlah negara Barat lain di panggung global.
Selain itu, Iran juga menjadi ‘kiblat’ kaum muslim Syiah di Timur Tengah dan dunia. Saudi dan Iran sama-sama berada di kawasan Timur Tengah. Kedua negara ini hubungannya pasang-surut. Naik turun. Saudi ‘kiblat’ kaum Islam Sunni, sedang Iran ‘kiblat’ komunitas Islam Syiah. Dalam perspektif sejarah Islam, kedua aliran ini relasinya kadang berjalan seiring, tapi tak jarang berseberangan jalan.
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab dan Dirut beritajatim.com






