Surabaya (beritajatim.com) – Indonesian Packaging Federation (IPF) bersama Program for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) mendorong pentingnya desain kemasan berkelanjutan dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Business Development Director IPF, Ariana Susanti menjelaskan bahwa ajang ini rutin digelar setiap tahun untuk mengangkat tren inovasi kemasan terkini dari kalangan industri dan pelajar. Tahun ini, kategori sustainability package kembali menjadi sorotan utama.
“Sustainability package ini baru tiga tahun kita adakan. Antusiasmenya sangat tinggi. Tahun lalu, ada 14 pemenang dalam kategori ini, termasuk dari BIFC,” ujarnya di Grand City Surabaya, Jumat (13/6/2025).
Sementara itu, Executive Director IPF, Henky Wibawa menekankan bahwa isu keberlanjutan kemasan erat kaitannya dengan pengelolaan sampah yang belum optimal di Indonesia. Ia menyoroti belum terlaksananya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 secara maksimal, khususnya terkait pengelolaan tempat pembuangan sampah.
Di negara seperti Jerman, lanjut dia, sejak 50 tahun lalu mereka sudah memiliki sistem pengumpulan dan daur ulang. Namun di Indonesia, masalah utama bukan teknologi, tapi pengumpulan dan pemilahan sampah yang tidak berjalan.
“Nah, masalah yang terjadi di kita sekarang adalah penanganan sampah sendiri belum terlaksana dengan baik,” ujar Henky.
Menurutnya, sistem pengelolaan sampah memerlukan sinergi dari empat aspek penting, yaitu infrastruktur, pembiayaan, teknologi, dan tata kelola.
IPF sebagai asosiasi industri kemasan juga aktif memberikan edukasi dan mendorong anggotanya untuk berinovasi menggunakan teknologi daur ulang seperti mechanical recycling pada botol PET. “Sudah ada anggota kami yang mempraktikkan ini, seperti Aqua dan lainnya,” tambahnya.
Dalam kesempatan sama, Ragita Wirastri dari Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) menyampaikan pentingnya edukasi terhadap penggunaan kemasan berbasis kertas berkelanjutan.
“Dengan memilih kertas dari hutan yang tersertifikasi, user turut serta dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Karena pengelolaan hutan lestari itu justru menyerap dan menyimpan karbon,” jelas Ragita.
Menurutnya, penyebaran informasi soal kemasan berkelanjutan harus terus dilakukan agar masyarakat makin sadar dan peduli terhadap isu lingkungan.
Sementara itu, CEO Krista Media Exhibitions, Daud Salim mengatakan bahwa pameran tahun ini diikuti oleh 180 peserta dari 9 negara, termasuk 30 IKM dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pameran ini ditargetkan mendatangkan 25.000 pengunjung dari berbagai sektor industri.
“Kami menargetkan pameran selama empat hari ini akan menjangkau pengunjung dari berbagai provinsi, termasuk industri hotel, restoran, kafe, jasa boga, dan hospitality,” ujarnya. [ipl/but]






