Ngawi (beritajatim.com)– Kehadiran sejumlah perusahaan baru di Kabupaten Ngawi diproyeksikan mampu menyerap ribuan tenaga kerja dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah daerah pun menyiapkan berbagai langkah agar masyarakat lokal dapat mengisi peluang kerja tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Tenaga Kerja di Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Kabupaten Ngawi, Supriyadi, mengatakan saat ini jumlah tenaga kerja yang telah terserap di kawasan industri setempat sekitar 1.500 orang.
“Untuk saat ini sudah ada sekitar 1.500 pekerja. Kebutuhan tenaga kerja di kawasan itu diperkirakan sekitar 2.000 sampai 3.000 orang di semua sektor yang ada di GFT,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam dua hingga tiga tahun ke depan jumlah tenaga kerja yang terserap diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya perusahaan yang beroperasi. Proyeksi kebutuhan tenaga kerja bahkan bisa mencapai 5.000 hingga 7.000 orang.
Selain itu, beberapa perusahaan juga telah menyampaikan rencana perekrutan tenaga kerja dalam waktu dekat. Di antaranya perusahaan alas kaki Sintec, perusahaan Whaihing, GFT, serta Royal Regen.
“Perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan membuka sekitar 2.000 sampai 4.000 lapangan kerja. Namun saat ini masih menyesuaikan kesiapan peralatan dan order produksi,” jelasnya.
Supriyadi menambahkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Ngawi pada 2025 tercatat sekitar 2,26 persen. Kehadiran investasi baru diharapkan dapat membantu menekan angka tersebut.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan terkait kesesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
“Diharapkan bisa mengurangi TPT. Namun kenyataannya, ketersediaan lowongan kerja belum sepenuhnya sebanding dengan keahlian pencari kerja yang ada,” katanya.
Karena itu, pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait menyiapkan langkah konkret berupa pelatihan dan program pemagangan bagi pencari kerja.
“Melalui OPD kami, salah satunya dengan pelatihan dan pemagangan di perusahaan tersebut bagi pencari kerja yang belum memiliki keahlian sesuai kebutuhan industri. Harapannya setelah pelatihan mereka bisa langsung bekerja di sana,” pungkasnya. [fiq/ian]






