Surabaya (beritajatim.com) – Pelatih Tim Waanal Brother, Sahala Marudut, melayangkan kritik keras terhadap kinerja panitia pelaksana (Panpel) kompetisi Liga Nusantara menyusul insiden rasisme yang mencoreng laga di Lapangan Thor, Surabaya, Jumat malam (5/12/2025). Insiden tersebut dinilai terjadi akibat kegagalan panitia dalam menegakkan regulasi sterilisasi area pertandingan dari kehadiran penonton.
Sahala menilai Panpel seharusnya memahami dan menjalankan regulasi yang telah disepakati secara ketat, mengingat pertandingan tersebut berstatus tanpa penonton. Namun, fakta di lapangan menunjukkan Panpel kecolongan dengan hadirnya lebih dari 50 pendukung Gresik United yang berhasil mendekat dan meneriakkan ujaran rasis dari luar pagar, meski area lapangan telah ditutup kain hitam.
“Saya harus mengkritik panpel mau tidak mau harus intropeksi diri karena pertandingan masih lama dan sudah ada di regulasi jika suporter tidak diperbolehkan untuk datang. Saya tidak menyalahkan suporter tapi mengapa panpel tidak mencegah karena jika tidak dikasih ruang mereka tidak akan datang,” ungkap Sahala, Sabtu (6/12/2025).
Lebih lanjut, Sahala menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menyalahkan suporter sepenuhnya. Menurutnya, kehadiran massa di area vital pertandingan seharusnya bisa diantisipasi sejak awal oleh pihak penyelenggara. Kegagalan antisipasi ini berdampak fatal dengan munculnya intimidasi verbal berupa teriakan rasis yang sangat mengganggu jalannya pertandingan dan mentalitas pemain.
Pihak Waanal Brother berharap kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi penyelenggara liga agar iklim kompetisi tetap sehat dan profesional.
“Kita tidak menyalahkan mereka tapi lebih mengkritik panpel kinerja untuk pertandingan berikutnya untuk bisa bekerjasama jangan sampai ada penonton yang bisa memprovokasi,” imbuhnya.
Sebagai informasi, pertandingan antara Gresik United melawan Waanal Brother sejatinya berjalan lancar sejak peluit babak pertama dibunyikan. Situasi berubah drastis memasuki babak kedua, tepatnya pada menit ke-80, ketika wasit terpaksa menghentikan laga selama 10 menit.
Keputusan penghentian pertandingan diambil setelah ofisial tim melakukan protes keras kepada wasit dan perangkat pertandingan. Langkah ini dilakukan untuk meredam situasi yang memanas akibat nyanyian dan teriakan bernada rasis dari oknum suporter Gresik United yang terus menggema di sekitar arena pertandingan. [way/beq]






