Malang (beritajatim.com) – Prestasi ditorehkan oleh mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) di kancah nasional. Membawa inovasi beton ramah lingkungan yang teruji tahan gempa, Tim Akral Baswara dari Program Studi D-4 Manajemen Rekayasa Konstruksi (MRK), Jurusan Teknik Sipil, sukses menyabet Juara 1 dalam ajang bergengsi Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) Kemendiktisaintek ini berlangsung di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 12–17 November 2025. Tidak hanya meraih gelar utama, tim ini juga mengamankan penghargaan khusus sebagai Juara Kategori Kinerja Seismik, membuktikan keandalan struktur rancangan mereka dalam menghadapi simulasi gempa.
Dalam kompetisi kategori Bangunan Gedung Beton Pracetak, para peserta dituntut untuk memiliki strategi konstruksi yang tidak hanya cepat, tetapi juga presisi. Ketua Tim Akral Baswara, Paranta Wida Winata, menjelaskan bahwa tantangan utama terletak pada perakitan komponen pracetak seperti balok, kolom, dan pelat menjadi struktur gedung bertingkat yang utuh dalam batasan waktu yang sangat ketat.
Namun, ujian sebenarnya terjadi setelah struktur berdiri. Model bangunan harus melewati pengujian ekstrem di atas shaking table (meja getar) untuk mensimulasikan beban gempa dinamis.
“Meja getar memberikan guncangan lateral dengan frekuensi bertingkat. Ini untuk menguji integritas, kekakuan, dan ketahanan struktur bangunan dalam mempertahankan bentuknya tanpa mengalami keruntuhan,” ujar Paranta kepada beritajatim.com, Selasa (25/11/2025).
Hasilnya, desain Tim Akral Baswara terbukti kokoh dan stabil, mengantarkan mereka meraih predikat terbaik dalam kinerja seismik.
Kunci kemenangan tim Polinema tidak hanya terletak pada teknik perakitan, melainkan pada inovasi material yang mereka gunakan. Tim ini memanfaatkan limbah abu sekam padi sebagai bahan campuran beton.
“Pemanfaatan limbah pertanian ini bukan tanpa alasan. Abu sekam padi diketahui memiliki kandungan silika yang tinggi. Senyawa ini berfungsi signifikan dalam meningkatkan kualitas dan kekuatan beton (kuat tekan), sekaligus menjadikan konstruksi ini lebih ramah lingkungan (eco-friendly) dengan mengurangi limbah pertanian yang terbuang percuma,” lanjut ketua tim.
Di balik kekokohan struktur beton, Tim Akral Baswara tidak melupakan aspek estetika dan identitas bangsa. Pada bagian fasad bangunan, mereka mengusung konsep arsitektur budaya Minangkabau khas Kota Padang.
Langkah ini diambil sebagai bentuk upaya pelestarian dan pengenalan nilai kearifan lokal (local wisdom) yang dipadukan secara harmonis dengan desain bangunan modern. Kombinasi antara teknologi beton mutu tinggi dan sentuhan budaya inilah yang memukau para dewan juri.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras tim inti, tim ornamen, dan tim K3 yang solid di bawah bimbingan dosen Sonnia Syafirra, S.T., M.T. Adapun tim inti Akral Baswara terdiri dari: Paranta Wida Winata (Ketua Tim) – D-4 Manajemen Rekayasa Konstruksi, Dea Aulia Ardini – D-4 Manajemen Rekayasa Konstruksi. (dan/kun)






