Ponorogo (beritajatim.com) – Jejak sindikat mulai terungkap perlahan dalam kasus kredit fiktif di BRI Unit Pasar Pon Ponorogo. Setelah beberapa waktu yang lalu menetapkan tersangka kepada SPP, mantan pegawai BRI Unit Pasar Pon, Kejaksaan Negeri (Kejari) Ponorogo menetapkan 2 tersangka baru dalam kasus yang menimbulkan kerugian ratusan juta tersebut.
Kedua tersangka adalah Nasrul Agung Filayati (NAF) dan Daniel Sakti Kusuma Wijaya (DSKW), yang dikenal dengan nama samaran Lette. Mereka diduga kuat sebagai pemain utama di balik layar, yang mengatur skenario kredit tanpa debitur.
“Kami menetapkan 2 tersangka baru, karena peran mereka sangat dominan dalam proses terjadinya kredit fiktif,” kata Kepala Seksi Intelijen Kejari Ponorogo, Agung Riyadi, ditulis Rabu (25/6/2025).
Penyelidikan mengungkap bahwa Lette berperan sebagai otak di lapangan. Dia berburu calon “nasabah” yang sejatinya tidak pernah mengajukan kredit, bahkan tidak tahu namanya dipakai. Nama dan identitas orang lain itu dikumpulkan untuk keperluan administrasi fiktif.
Semua data hasil rekayasa itu lalu diserahkan kepada NAF, yang beraksi sebagai pemalsu identitas, lengkap dengan manipulasi dokumen kependudukan. Diduga, NAF menggunakan koneksi untuk menyusupkan data ke sistem resmi, terutama data KTP dari Dispendukcapil.
“Peran mereka bukan dari internal bank. Mereka berteman dengan tersangka sebelumnya, SPP, dan berperan sebagai calo,” kata Agung.
NAF telah diperiksa selama dua kali sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Pemeriksaan berlangsung ketat selama tujuh jam, hingga akhirnya yang bersangkutan langsung ditahan di Rutan Kelas IIB Ponorogo selama 20 hari ke depan.
Sementara itu, Lette hingga kini belum memenuhi panggilan penyidik. Dia sudah 3 kali mangkir dari pemanggilan sebagai saksi, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.
“Kami akan panggil ulang. Jika masih mangkir, upaya jemput paksa akan kami lakukan,” tegas Agung.
Meski 3 tersangka telah ditetapka, yakni SPP, NAF, dan Lette, Penyidik Kejari Ponorogo belum berhenti. Sebanyak 12 saksi telah diperiksa. Target selanjutnya adalah mengungkap siapa yang berada di pucuk kendali.
“Kami masih mendalami jaringan ini. Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan,” pungkas Agung Riyadi. (end/but)






