Lamongan (beritajatim.com) – Inovasi terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH). Mereka mengolah limbah menjadi suatu hal yang bernilai.
Limbah itu diolah untuk usaha ternak dan asuransi Sapi Peternak Sejahtera (Ombak Si Petra). Hingga saat ini, inovasi itu mampu menjadi subtitusi bagi para petani dalam menyelesaikan permasalahan kelangkaan atau tingginya harga pupuk.
Sekertaris Daerah Kabupaten Lamongan, Moh. Nalikan mengatakan bahwa program yang diinisiasi oleh DPKH sejak 3 tahun lalu ini juga telah mampu masuk sebagai 45 inovasi Kovablik Jawa Timur.
Oleh sebab itu, dalam peringatan ‘Word Rabies Day’ di Halaman Kantor DPKH Lamongan ini Nalikan menyampaikan bahwa kombinasi dua sektor antara pertanian dan peternakan menjadi salah satu jawaban untuk meningkatkan kesejahteraan bagi petani dan peternak di Kabupaten Lamongan.
“Ombak Si Petra ini dapat memberikan manfat, dari kotoran ternak dapat dibuat pupuk, hasil pertanian atau sampah pertaniannya juga bisa dijadikan pakan ternak. Kalau masyarakat bisa terus berinovasi, maka ini akan bisa mengurangi dan mengatasi permasalahan pupuk. Karena pemerintah pusat mengurangi adanya subsidi pupuk,” ungkap Nalikan, Rabu (11/10/2023).
BACA JUGA:
Bupati Lamongan: Persoalan Pupuk Kita Selesaikan Bersama
Dijelaskan Nalikan, saat ini kondisi unsur bahan organik tanah di Kabupaten Lamongan berada di bawah angka 30 persen atau dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Atas kondisi tersebut, Nalikan menegaskan, perlunya dilakukan pengembalian kesuburan tanah atau konservasi lahan melalui peningkatan kadar kesuburan tahan dengan pemberian pupuk organik.
Sehingga melalui inovasi yang dikembangkan DPKH Lamongan itu, Nalikan berharap, pertanian dan peternakan menjadi pekerjaan yang menyenangkan dan mudah untuk dilakukan oleh masyarakat di Lamongan.
“Hasil panen tahun ini luar biasa, baik tembakau dan padi, ini harus kita rujuk bagimana kita pertahankan hasilnya, bagimana bertani dengan murah dan mudah, salah satunya dengan mengkombinasikan peternakan dan pertanian,” papar Nalikan.
“Sehingga inovasi-inovasi diperlukan agar memberikan hal positif bagi generasi muda saat ini, para pemuda menjadi suka bertani, ada gerakan perubahan mindset beternak dan bertani itu bukan hal yang hanya untuk orang tua, tapi para generasi muda saat ini bisa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DPKH Lamongan Mohammad Wahyudi mengungkapkan, dalam rangka meningkatkan hasil produksi pupuk organik, saat ini telah ada 29 kelompok penerima bantuan sarpras pengolahan pupuk organik yang tersebar di beberapa Kecamatan.
Di antaranya Kecamatan Laren (1) Sukodadi (1), Solokuro (1), Paciran (1), Mantup (6), Modo (1), Sugio (1), Tikung (3), Sambeng (5), Kedungpring (1), Maduran (1), Bluluk (1), Brondong (1), Kembangbahu (2), dan Ngimbang (2).
“Satu hektar lahan pertanian ini kurang lebih membutuhkan pupuk kotoran sapi sekitar 1 ton. Namun saat ini pupuk organik yang kita hasilkan secara keseluruhan baru 150.000 ton yang dikembalikan ke tanah, sementara kita membutuhkannya sekitar 600.000 ton pupuk,” aku Wahyudi.
“Kita terus berupaya menyosialisasikan, optimalisasi kelompok-kelompok dengan coba kita koordinasikan dengan para camat. Kita juga menyalurkan bantuan pengolahan seperti crusher, gerobak, mesin jahit karung, tandon air, roda tiga, mesin pengayak pupuk dan lainnya,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Petani Lamongan Ngeluh Jatah Pupuk Subsidi 2023 Dikurangi
Tak cukup itu, Wahyudi juga mengatakan, kehadiran Ombak Si Petra diharapkan dapat membawa kebermanfatan untuk keiikutsertaan para peternak dalam mengasuransikan ternaknya maupun dirinya melalui kemudahan hasil jual pupuk.
“Pupuknya dijual, hasil jualan ini untuk asuransi ternaknya, termasuk juga orangnya, saat ini sudah ada 53 orang yang mengikutsertakan 83 ekor sapinya dalam asuransi ternak yang pembayar premi hasil teletong (kotoran) sapi. Ini untuk berjaga ketika sapinya mati akan mendapatkan ganti 10 juta, dengan premi yang harus dibayar adalah 40.000 per tahun,” terangnya.
Masih kata Wahyudi, demi meningkatkan minat beternak masyarakat, DPKH Lamongan memberikan penghargaan untuk para peternak Lamongan yang telah membudidayakan sapi, kambing dan domba, dengan kategori sapi induk/ calon induk, sapi bagian blue, kambing ekstrim atau unik dan domba ekstrim. [riq/suf]






