Lamongan (beritajatim.com) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengenakan Busana Khas Lamongan dan mengunggahnya di akun media sosialnya, pada beberapa waktu lalu.
Busana Khas Lamongan (BKL) adalah busana yang mulai diperkenalkan sejak tahun 2018, busana ini memiliki warna dominan kuning yang dipadupadankan dengan batik Singomengkok.
Lalu per tanggal 1 April 2021 kemarin, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lamongan diwajibkan untuk mengenakan BKL ini setiap hari Kamis, pada Minggu pertama, di setiap bulannya.
“Pada 2019, desain BKL baru dengan memasukkan nuansa Islam dalam elemen khasnya, seperti desain kebaya, di mana kebaya dibuat hingga ke lutut dan tetap memasukkan motif batik Singomengkok di dalamnya,” kata Kadisparbud Lamongan, Siti Rubikah saat dikonfirmasi wartawan, Senin (20/12/2021).
Selain itu, Rubikah menuturkan, BKL juga merupakan perpaduan dari sejumlah budaya lokal yang ada di Lamongan. Hal itu seperti pengaplikasian kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adat tambal sewu di Desa Sambilan, Kecamatan Mantup.

Selanjutnya, untuk melengkapi Busana Adat Khas Lamongan ini, lanjut Rubikah, dipasangkan aksesoris bros untuk kebaya bermodel teratai berjuntai, dengan motif gunungan yang ada di Sendang Dhuwur, Kecamatan Paciran.
“Nuansa batik juga dihadirkan dalam BKL ini. Batik Singomengkok yang terinspirasi dari Gamelan Singomengkok Sunan Drajat pada udeng dan sembong pada busana pria serta jarit pada busana perempuan sebagai bagian dari pelestarian budaya masyarakat Lamongan di wilayah utara,” terangnya.
Lebih lanjut Rubikah berkata, BKL dipakai pada tiap undangan resmi acara Pemkab Lamongan dan HUT Lamongan. Bahkan, Bupati Lamongan juga telah menetapkan aturan wajib bagi ASN agar memakai BKL sebagai pakaian dinas Lamongan.
“Sebagai bagian untuk mencintai budaya kita sendiri dan kebanggaan, karena Lamongan memiliki busana khas sendiri,” imbuhnya.
Menurut Rubikah, dengan adanya unggahan dari Menparekraf yang mengenakan BKL tersebut, tentu hal ini membuat bangga warga Lamongan. Pasalnya, BKL akan semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.
[berita-terkait number=”4″ tag=”empat-kunci”]
“Adalah sebuah kebanggaan, bahwa BKL yang telah ditetapkan secara resmi sejak 2018 ini, tidak hanya dikenal oleh masyarakat Lamongan saja, tapi sudah menasional, ya seperti yang dipakai Menparekraf saat ngantor itu,” beber Rubikah.
Ke depan, Rubikah menyebut, akan lebih mengenalkan BKL kepada masyarakat, tidak hanya busananya tapi juga makna dan sejarah yang ada dalam busana ini agar kian lestari. L
“BKL akan semakin dikenal publik, baik busananya juga sejarah dan maknanya serta sebagai bagian untuk mencintai budaya kita sendiri dan kebanggaan karena Lamongan memiliki busana khas sendiri,” pungkasnya. [riq/but]






