Lamongan (beritajatim.com) – Serat Yusup koleksi museum Sunan Drajat Lamongan yang saat ini dikaji memiliki sejumlah nilai penting yang terkandung di dalamnya.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh peneliti Serat Yusup dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Laksmi Eko Safitri, dalam seminar hasil kajian koleksi Museum Sunan Drajat, di Aula Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Kamis (7/7/2022).
Menurutnya, nilai penting merupakan hal yang paling mendasar dalam kegiatan baik pelestarian maupun pengelolaan warisan budaya.
Hal itu juga sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, membagi nilai penting dalam 5 (lima) aspek yakni nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, agama, pendidikan, dan kebudayaan.
“Banyak nilai penting yang bisa kita dapat dari kajian Serat Yusup ini, mulai dari nilai ilmu pengetahuan (arkeologi), nilai sejarah, nilai agama, nilai kebudayaan, hingga nilai pendidikan,” kata perempuan yang akrab disapa Laksmi tersebut.
1. Nilai Penting Ilmu Pengetahuan (Arkeologis)
Sesuai informasi dari petugas Museum Sunan Drajat, naskah tersebut belum berketetapan sebagai benda cagar budaya. Meski begitu, berdasarkan kondisi fisik dan gaya penulisan teks, dapat dipastikan bahwa Serat Yusup ini telah berusia di atas 50 tahun yang bisa memenuhi syarat berketetapan sebagai benda cagar budaya.
Sehingga, Laksmi menuturkan, naskah Serat Yusup ini sangat berpeluang untuk diteliti menggunakan disiplin ilmu arkeologi. Bahkan, nantinya dapat diperoleh informasi dalam menjawab permasalahan kehidupan masa lalu, khususnya mengenai usia dan fungsi naskah.
“Belum diketahui satupun informasi mengenai usia Serat Yusup. Namun berdasarkan kegunaannya sebagai media dakwah untuk menyebarluaskan Islam oleh Sunan Drajat, maka Serat Yusup ini diperkirakan dibuat dan digunakan pada abad 15 M,” tuturnya.

Di sisi lain, Laksmi berpandangan, kegunaan dan asal naskah dapat dilihat dari corak penulisan dan pilihan kata yang terkandung dalam naskah. Penulis naskah ini tidak menyatakan dengan pasti tujuan penulisannya. Oleh karena itu, fungsi dan kedudukan teks harus dicari pada hal-hal yang tersirat dalam naskah.
Dalam kesusastraan Jawa, tambah Laksmi, naskah ini dapat digolongkan sebagai hasil kesusastraan Islam. Meski tidak menggunakan aksara pegon, namun bentuk teks yang berupa syair dan isinya berupa saduran dari Al-Quran cukup menjadi bukti penggolongan tersebut.
“Hiasan dan kerapian tulisan menjadi salah satu tolak ukur dugaan fungsi dan asal kedua naskah ini. Biasanya, proses kreatif tersebut didukung oleh tiga pihak, yakni kerajaan, elite sosial, dan pesantren. Hal ini dapat kita lihat adanya hiasan pada cover lontar dan kerapian tulisan aksara Hanacaraka,” bebernya.
2. Nilai Penting Sejarah
Sekitar abad 15 sampai 16 M, perpindahan pusat peradaban ke pesisir Jawa diharapkan menjadi tempat para kaum intelektual. Secara bersamaan, Kerajaan Majapahit pun mengalami krisis sosial dan ekonomi.
Seiring dengan kondisi Pemerintahan Majapahit yang carut-marut dan banyak masyarakat kecil yang semakin tertindas, Sunan Drajat pun memahami bahwa Islam adalah tonggak yang tepat untuk mengajarkan sikap saling mencintai antar sesama dan berkonsentrasi pada masyarakat miskin.
Laksmi menjelaskan, selain dikenal kerap menggunakan media seni dalam menyebarkan Islam, Sunan Drajat juga dikenal banyak menghasilkan karya-karya seni dan sastra. Salah satunya adalah Serat Yusup ini.
“Serat Yusup merupakan hasil gubahan Sunan Drajat yang berasal dari Surat Yusuf dalam Al-Quran. Serat yang berisi tentang kehidupan Nabi Yusuf ini dibacakan tiap malam Jumat Legi dan diiringi oleh Gamelan Singo Mengkok,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”museum-sunan-drajat-lamongan”]
Tak cukup itu, alunan gamelan yang mendayu dan macapatan Serat Yusup yang dilantunkan pun menarik perhatian masyarakat, akhirnya masyarakat juga banyak yang tertarik untuk mempelajari Islam.
“Ajaran yang terkandung dari Serat Yusup lalu menjadi landasan atau acuan dalam proses tingkeban atau tujuh bulanan dalam memperingati fase kelahiran. Serat Yusup menjadi salah satu bukti artefak sejarah perkembangan Islamisasi di Lamongan. Simbol perwujudan masa lalu yang mewariskan pengetahuan seni dan religius bagi masyarakat,” terang Laksmi.
3. Nilai Penting Agama
Dalam perspektif nilai penting agama, kegunaan naskah ini dapat dilihat dalam dua konteks, yakni konteks masa lalu dan masa kini. Pada konteks masa lalu, tembang-tembang macapat merupakan sarana dakwah yang digunakan Sunan Drajat dalam menyebarluaskan Islam, khususnya di Lamongan.
Laksmi menerangkan, di awal kegiatan dakwah, gubahan kisah-kisah para nabi yang sarat dengan ajaran Islam mampu menarik minat masyarakat setempat. Penggunaan Bahasa Jawa dengan Aksara Hanacaraka serta dilantunkan menggunakan teknik macapatan mudah dipahami masyarakat, sehingga banyak yang tertarik untuk mempelajari Islam.
“Setelah Islam berkembang pesat dan muncul pesantren, Naskah Serat Yusup ini masih digunakan sebagai media pembelajaran Agama Islam,” imbuhnya.

Sedangkan dalam konteks masa kini, kata Laksmi, naskah ini masih relevan digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam mempelajari ajaran Islam. Selain isi teks yang menarasikan suri tauladan dan kisah-kisah kehidupan para nabi yang lekat dengan kehidupan sehari hari, unsur keIslaman di pesisir Jawa juga dapat dipelajari dari teks-teks tersebut.
“Namun karena kondisi teks yang korup, tidak lengkap, dan menjadi koleksi Museum Sunan Drajat, maka pemahaman tentang Islam dari naskah tersebut hanyalah sebatas kebutuhan penelitian saja,” sebutnya.
4. Nilai Penting Kebudayaan
Dalam masyarakat Jawa, naskah lama itu dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu sebagai naskah pusaka, naskah sakral, dan naskah biasa. Naskah Serat Yusup termasuk naskah sakral.
Pasalnya, kesakralan tersebut terlihat pada pembacaan yang hanya dilakukan pada waktu atau momentum tertentu saja.
“Naskah sakral itu dianggap suci dan dibaca pada saat tertentu, yaitu pada hari-hari yang dianggap sakral pula atau dibaca pada waktu tidak tertentu, asalkan si pembaca memenuhi beberapa syarat tertentu. Kesakralan suatu naskah disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya, waktu pembuatannya yaitu pada waktu hari atau bulan yang sakral. Demikian pula orang yang membuatnya itu harus dalam keadaan suci lahir dan batinnya,” terang laksmi.
Selain itu, menurut Laksmi, pada naskah Serat Yusup juga ditemukan Sinkretisme. Seperti penggunaan diksi “Baginda Yusup” untuk penyebutan Nabi Yusuf as, yang merupakan salah satu bentuk sinkretisme dalam kesusastraan pesisir.
“Sinkretisme tersebut terkait dengan fungsi Serat Yusup di zaman Sunan Drajat yang digunakan sebagai media dakwah menyebarluaskan Agama Islam,” imbuhnya.
Sehingga, susunan dan diksi yang digunakan pada naskah ini menunjukkan bahwa terdapat dua layer kebudayaan yang saling berkesinambungan. Yakni Hindu sebagai local wisdom, sedangkan Islam sebagai budaya baru.
“Selain itu, bentuk syair macapatan hasil gubahan dari Al-Quran ini dianggap meneruskan kebudayaan lama (Hindu). Akulturasi dua layer kebudayaan inilah yang memperkaya khazanah kesusastraan pesisir,” tandasnya.
Tak hanya itu, penggunaan media lontar sebagai bahan naskah Serat Yusup ini juga memiliki relasi yang cukup erat dengan kondisi alam maupun budaya di Lamongan.
“Wilayah Lamongan banyak ditumbuhi pohon lontar (taal) sehingga mudah mendapatkan bahan baku. Dalam konteks kekinian, pelestarian naskah lontar dapat menjadi langkah awal dalam menumbuhkan ketertarikan masyarakat masa kini terhadap media lontar. Jika dikembangkan, dapat menambah khazanah budaya dan kekhasan Lamongan,” paparnya.
5. Nilai Penting Pendidikan
Sejak dulu Lamongan sudah akrab dengan dunia pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Sumber sejarah lisan menyebutkan bahwa pendidikan tradisional ditandai dengan munculnya pesantren-pesantren di Lamongan.
Pesantren adalah tempat untuk belajar agama Islam atau bisa dikatakan pesantren adalah lembaga pengajaran kuno yang sudah diadopsi secara turun-temurun dengan tradisi pengajarannya berupa sorogan.
Di lingkungan pesantren, media pembelajaran berupa Naskah mulai dikenal dan berkembang pesat. Bahkan, muncul dan berkembangnya Naskah pesisiran berasal dari pesantren.
“Serat Yusup merupakan salah satu hasil dari budaya pesantren yang merupakan cikal bakal pendidikan dan media penyebarluasan agama Islam,” jelasnya.
Dari uraian di atas, naskah Serat Yusup sebagai sumber daya budaya sangat penting untuk dikelola kelestariannya. Upaya pelestarian lanjutan guna mempertahankan nilai tingable dan intangible yang dimilikinya sangat diperlukan.
Apalagi, tutur Laksmi, kondisi naskah dalam tingkat keterancaman tinggi karena banyaknya teks yang korup atau rusak.
“Melihat kondisi naskah, salah satu solusi jangka pendek yang harus dilakukan adalah kajian pra konservasi dan konservasi. Lalu sebagai upaya lanjutan, juga diperlukan digitalisasi sebagai upaya pelestarian sekaligus pemanfaatan. Sehingga masyarakat mudah untuk mengakses dan mempelajari naskah secara mendalam,” pungkasnya.[riq/ted]






