Bondowoso (beritajatim.com) – Menjelang musim tanam tembakau tahun 2025, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso memberikan sejumlah imbauan penting kepada para petani.
Salah satunya adalah larangan menanam tembakau di lahan bekas tanaman se-famili seperti terong dan cabai.
Kabid Penyuluhan DPKP Bondowoso, Yudhi Achmad, menjelaskan bahwa tembakau, cabai, dan terong merupakan tanaman satu famili yang memiliki kesamaan hama dan penyakit.
“Jangan sampai menanam tembakau di lahan bekas terong atau cabai. Karena penyakit dan hamanya sama, bahkan bisa menular lewat tanah atau air. Itu sangat berisiko,” terang Yudhi pada BeritaJatim.com, Kamis (17/4/2025).
Menurutnya, meskipun secara teknis penanaman bisa saja dilakukan, namun kualitas dan kesehatan tanaman sangat rentan terganggu.
Bahkan di lahan milik PTPN, tanaman tembakau yang berada dekat dengan tanaman satu famili pun bisa tertular penyakit.
Selain itu, DPKP juga menyarankan agar penggunaan pupuk klorida seperti KCL dihindari karena bisa menurunkan mutu tembakau.
Kandungan klorida dapat membuat daun tembakau sulit terbakar, rasa tidak mantap, dan warna yang kurang menarik.
“Disarankan memakai pupuk organik. Sebelum tanam pakai yang padat, setelah tumbuh bisa gunakan yang cair,” ujarnya.
Dalam upaya peningkatan kapasitas petani, DPKP juga menjadwalkan sosialisasi budidaya tembakau kepada 350 petani dari tujuh wilayah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Bondowoso.
Sosialisasi akan digelar mulai Mei 2025 secara bergantian, satu hari penuh per BPP, dengan menghadirkan narasumber kompeten.
Berdasarkan geografis, wilayah pegunungan dan tegalan seperti di Kecamatan Sumberwringin dan Sukosari telah mulai menanam sejak Maret karena mengandalkan tadah hujan.
Sedangkan di lahan pertanian teknis, pengolahan masih berjalan dan penanaman rata-rata akan dimulai Mei.
“Petani harus mewaspadai cuaca ekstrem. Karena BMKG memprediksi musim kemarau pendek, maka disarankan tanam lebih awal agar panen tidak terganggu hujan,” imbau Yudhi.
Musim panen tembakau di Bondowoso diperkirakan akan berlangsung antara Mei hingga Oktober 2025 mendatang.
“Tanaman tembakau umumnya memerlukan waktu sekitar 150 hari sejak persemaian hingga proses penjemuran selesai,” tuturnya. (awi/but)






