Malang (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia, Prof Muhadjir Effendy, M.Ap menghadiri dies natalis Unitri Malang yang ke-21. Pada acara yang berlangsung di GOR Kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang itu Muhadjir Effendy menekankan tentang dua hal yang menjadi fokus kementerian koordinator PMK saat ini.
“Ada dua hal yang menjadi fokus kementerian PMK saat ini. Pertama pencegahan stunting, dan yang kedua penanaman mental berwirausaha pada usia kerja produktif. Oleh karenanya di Unitri banyak program afirmasi untuk merekrut mahasiswa dari daerah terpencil atau 3T. Ini suatu agenda yang bagus, dan saya kira nanti akan dibicarakan secara khusus,” terang Menok PMK dalam penyampaian.
Dia menekankan bahwa mahasiswa dari 3T harusnya mendapat pendidikan yang setara. “Di sini banyak mahasiswa yang berasal dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Unitri telah mempelopori penyetaraan pendidikan untuk mahasiswa 3T dengan mahasiswa dari wilayah mainstream,” jelasnya.
Untuk penanganan Stunting, kata dia, BKKBN sudah bekerja sama dengan perguruan tinggi. “Badan kependudukan dan keluarga berencana nasional atau BKKBN sudah bekerjasama dengan para perguruan tinggi terutama untuk sosialisasi dan edukasi,” tandasnya.
Banyak hal yang harus ditangani dalam mengatasi stunting, lanjut Muhadjir. Termasuk melakukan edukasi masyarakat, mempromosikan, dan mahasiswi perlu diberi pemahaman yang baik soal stunting. “Salah satu faktor penyebab stunting adalah rahim seorang remaja, rahim yang buruk ini disebabkan anemia , atau kurang darah. Itu terkait dengan siklus wanita. Jadi kalau ada yang meremehkan soal siklus wanita saat remaja itu bahaya. Remaja putri yang didorong melakukan diet ekstrim, menyebabkan kurang gizi berpengaruh pada perkembangan rahim. Dua hal itu jika terjadi menyebabkan stunting. Sehingga penting menyiapkan mahasiswi sebagai seorang calon ibu,” imbuhnya lebih lanjut.
Stunting, kata Menko PMK, sebetulnya adalah gagal tumbuh yang diakibatkan oleh gizi buruk, sanitasi buruk, ketidakcermatan keluarga atau ibu pada kondisi anak, atau kurang cermat ibu saat memasuki awal 1000 hari kehidupan. “Kita tidak bisa berharap banyak untuk perbaikan SDM dan mencanangkan Indonesia maju di tahun 2045, atau berharap pada bonus demografi jika stunting masih terus terjadi,” paparnya.
Mahasiswa merupakan manusia yang dibentuk oleh dirinya sendiri. “Intervensi dari perguruan tinggi 25 persen, orang tua 25 persen, dan sisanya diri mahasiswa sendiri. Sehingga kerjasama mutlak harus dibangun agar menjadi generasi unggul Indonesia,” pungkas Prof Muhadjir. (dan/kun)






