Surabaya (beritajatim.com) – Ipda Ahmad Nurhadi adalah salah satu dari sekian banyak personil Polri yang mengalami nasib naas saat bertugas. Dia merupakan Panit Sabhara Polsek Gubeng Surabaya yang kala itu berjaga di gereja yang berada di Jalan Ngagel Madya nomor 1 Surabaya.
Peristiwa mencekam pada Minggu, 13 Mei 2018 silam tak pernah bisa dia lupakan. Dentuman keras suara bom hingga jasad dan pecahan kaca yang berserakan di setiap sudut Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya.
Pria berusia 51 tahun itu mengatakan kala itu dirinya sedang bertugas menjaga Gereja SMTB Surabaya bersama rekannya, Aiptu Nurhadi. Tanpa ada firasat apapun dengan kondisi cuaca cerah, ia mengaku tak menyangka bakal menjadi salah satu sasaran ledakan bom dari teroris yang saat itu sedang berada di dekat pos jaga Gereja SMTB Surabaya.
Ledakan kencang itu rupanya membuat Ahmad terjatuh dan tak sadarkan diri beberapa menit. Ketika matanya terbuka dan kondisi setengah sadar, pandangannya menjadi gelap.
Ia berusaha berdiri, namun kedua kakinya sulit digerakkan. Seringkali, ia hanya mendengar suara tangisan histeris hingga teriakan sejumlah orang yang meminta pertolongan.
Setibanya petugas gabungan di lokasi, Ahmad langsung dilarikan ke RSU Dr.Soetomo Surabaya. Ia menjalani perawatan intensif selama 3 bulan.
Ahmad mengalami luka bakar, kedua kaki patah, lalu tidak bisa melihat dan kena serpihan kaca. Tiga bulan di RSU Dr.Soetomo, lalu pindah ke RS Bhayangkara, setelah itu rawat jalan di rumah.
Atas persitiwa kelam yang menimpa dirinya, Ahmad mengaku telah mengikhlaskan dan ada secerca harapan. Bahkan, sejumlah bantuan pengobatan hingga dukungan dari sejumlah pihak, terutama dari Polri membuatnya kian optimis menjalani hidup.
Menurutnya, instansi kepolisian masih memberikan haknya. Mulai gaji, tunjangan, hingga membantu perawatan dan pengobatannya ke Singapura usai matanya tak berfungsi gegara serpihan bom yang mengenai sarafnya.
“Beribu-ribu terimakasih saya sampaikan kepada pimpinan dan rekan-rekan dinas saya atas perhatiannya pada kami sekeluarga, masih perhatian dan membantu berobat, saya bersyukur sekali. Karena setiap saya berobat dan ada keperluan apa selalu dijemput dan dibantu sepenuhnya, saya sangat terbantu,” tuturnya.
Ia lantas menyampaikan dukungan dan pesan-pesan kepada sejumlah personel Polri yang berdinas di lapangan. Menurutnya, personel kepolisian yang berdinas di mana pun dan dalam kondisi apapun haru selalu hati-hati, waspada, dan selalu semangat.
“Untuk teman-teman semua yang saat ini bertugas semuanya saya mohon hati-hati dan waspada, meskipun kondisinya aman-aman saja. Karena yang saya alami saat ini bahwa benar-benar tidak hanya melihat aman saja, tapi harus waspada. Padahal saat itu tidak ada apa-apa tapi tiba-tiba ada bom meledak di gereja. Rekan-rekan saya di lapangan harus hati-hati, jangan underistimate, harus tetap waspada dengan sekeliling, tetap semangat melakukan tugas, jangan kendor, tapi harus tetap mengayomi dan melayani masyarakat dengan semangat,” ujarnya. [uci/but]






