Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Dr KH Fahrur Rozi (Gus Fahrur) mengingatkan kepada petugas Kepolisian untuk bertindak tegas menghadapi kemungkinan munculnya arogansi dan tindakan melawan hukum anggota perguruan silat.
Hal itu dikatakan Gus Fahrur menyikapi aksi anarkis yang dilakukan perguruan Setia Hati Terate (PSHT) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (6/8/2022) malam. Akibatnya, dua orang mengalami luka-luka dan warga masyarakat yang banyak trauma.
“Saya mendapat banyak keluhan di beberapa WAG tentang kerusuhan yang dilakukan oleh perguruan silat PSHT yang arogan dan merugikan masyarakat,” kata Gus Fahrur dalam pesan WA yang dikirim kepada beritajatim.com, Senin (8/8/2022) siang.
Gus Fahrur yang juga pimpinan Pondok An Nur di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang ini, mengingatkan kepada aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian, agar bertindak tegas menertibkan mereka dan meminta pertanggungjawaban dari pimpinan perguruan silat tersebut.
“Kejadian seperti ini sudah sering berulang di agenda tahunan mereka. Melakukan konvoi dan mengganggu pengguna jalan lainnya,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”psht”]
Dalam konteks menjaga kamtibmas dan tertib sosial secara luas, menurut Gus Fahrur, negara melalui aparat penegak hukum harus berani bertindak tegas terhadap semua aksi premanisme yang menganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat.
“Saya minta petugas Kepolisian menindak tegas ormas perguruan silat yang melakukan kekerasan,” katanya mengingatkan.
Sebab, tambahnya, tindakan tegas dan tak kenal kompromi dari aparat penegak hukum tersebut sangat membantu mengurangi dan menekan perilaku kekerasan yang selama ini dilakukan perguruan silat tertentu di setiap momentum pengesahan anggota tahunan. “Tujuannya, agar tak terus berulang,” tegas Gus Fahrur. [air/ted]






