Surabaya (beritajatim.com) – Atlit-atlit muda terus bermunculan. Bukan hanya punya potensi besar, mereka juga menunjukkan prestasi yang patut dibanggakan. Jika di sepakbola ada nama Pedri, gelandang Barcelon dan Timnas Spanyol berusia 18 tahun, di tennis muncul nama Emma Raducanu.
Petenis perempuan asal Inggris ini berhasil memenangi US Open di New York. Atlit berusia 18 tahun ini berhasil mengalahkan Leylah Fernandez. Pencapaiannya ini pun berhasil mengakhkiri penantian Inggris menjuarai Grand Slam setelah 44 tahun. Emma pun mendapatkan ucapan selamat dari Ratu Elizabeth II, dan viral di media sosial.
Ratu Elizabeth menyampaikan ucapan selamat pada keberhasilannya dengan pencapaian luar biasa di usia yang begitu muda dengan bukti kerja keras dan dedikasinya. Memang tidak perlu diragukan lagi jika penampilannya begitu luar biasa ketika melawan Leylah sangat menginspirasi generasi pemain tenis berikutnya.
Selain itu, Raducanu membawa pulang hadiah uang sebesar 1,8 juta pound sterling sekitar Rp 35,4 miliar. Jika dilihat dari peringkat dunia ke 150 menjadi peringkat dunia ke-23.
Mengenal Kepribadian Dari Raducanu
Secara umum, kita melihat Raducanu adalah petenis wanita Inggris pertama yang berhasil memenangkan turnamen besar sejak Virginia Wade pada 1977. Disini, dia berhasil ketika ia mengalahkan petenis Kanada Leylah Fernandez yang berusia 19 tahun di final US Open kategori remaja (all¬-teen) pertama sejak 1999.
Penyuka Motorcross Sejak Kecil
Aksi menarik dari Raducanu dimulai sejak usia antara lima hingga delapan tahun, Biasanya Raducanu bermain go-kart, memulai di garasi bus di Streatham sebelum pindah ke trek yang tepat. Maka, sejak usia sembilan tahun, dia sering melakukan olahraga motorcross.
Ketika ada waktu senggang, dia lebih suka mencoba go-kart dan motorcross. Namun, saat sudah menjadi bintang agak sulit untuk mengatur waktu.
Satu Sekolah Dengan Asher-Smith
Salah satu juara dunia sprinter yang terkenal, Dina Asher Smith ternyata pernah satu satu sekolah dengan Raducanu di Newstead Wood School, Orpington. Tapi mereka bukan satu angkatan karena Asher-Smith tujuh tahun lebih tua dari Raducanu.
Menguasai Bahasa Mandarin dan Menyukai Rumania
Faktanya Raducanu lahir di Toronto, Kanada. Dia adalah anak dari ayah keuturunan Rumania dan ibu keturunan Cina sebelum pindah ke London pada usia dua tahun. Maka dari itu, dia cukup menguasai bahasa Mandarin sehingga senang menonton acara televisi Taiwan.
Bicara soal Rumania, Raducanu pernah menceritakan mengenai kenangan indahnya mengunjungi neneknya, Mamiya, di Bucharest, Rumania.
Raducanu pernah mengatakan jika sudah beberapa kali dalam setahun, tinggal bersamanya. Ketika melihat pemandangan disana sangat menyenangkan apalagi makanannya jujur sangat enak. Menurut Raducanu, masakan sangat enak dan berbeda khusus masakan sang nenek. (prd/tur)






