Magetan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan memetakan wilayah yang masih berpotensi kekeringan tahun 2023 ini. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Eka Wahyudi mengungkapkan, ada dua desa di Kecamatan Parang yang dianggap rawan kekeringan.
Yakni, Desa Sayutan dan Desa Trosono Kecamatan Parang. Masing-masing, sebanyak 119 dan 200 kepala keluarga (KK) terdampak atau setara dengan 575 dan 800 jiwa. “Data potensi kekeringan itu yang kami laporkan ke Pemprov Jawa Timur. Namun, untuk kejadian kekeringan di tahun 2023 ini masih nihil,” kata Eka pada beritajatim.com, Kamis (3/8/2023).
Pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah desa Sayutan dan Tronoso. Sudah ada sumur swadaya dan ada juga program pamsimas untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga setempat. “Kemarin juga informasi dari PUPR ada sumur dalam yang juga bisa dimanfaatkan apabila terjadi krisis air bersih di wilayah Desa Trosono,” lanjutnya.
Kendati demikian, potensi kekeringan tetap ada, apabila sumber mata air yang diambil untuk kebutuhan air bersih masyarakat setempat mengecil atau bahkan mati. Hal itu bisa menimbulkan krisis air bersih di wilayah tersebut.
“Berhubung di wilayah sekitar Magetan seperti Ponorogo dan Ngawi sudah terjadi kekurangan air bersih dan sudah melaksanakan droping, dalam waktu dekat BPBD Magetan akan melaksanakan monitoring ke desa-desa yang berpotensi terdampak kekeringan sebagai langkah antisipasi, disamping juga menyiapkan sumberdaya manusia, prasarana dan sarana pendukung apabila sewaktu-waktu dibutuhkan,” katanya.
Pihaknya menginventarisir, ada 15 tandon kapasitas 2.300 liter, 10 tandon berkapasitas 1.200 liter, 13 tandon kapasitas 2.000 liter, 150 jerigen, alkon sebanyak 5 buah. Serta, 1 unit truk tangki kapasitas 6.000 liter. Semua itu milik BPBD Magetan. “Ada pula truk tangki dari Dinsos, PMI, dan PDAM Lawu Tirta,” pungkasnya. [fiq/kun]
BACA JUGA: Polisi Madiun, Ngawi, dan Magetan Kirim Bantuan Air ke Daerah yang Berpotensi Kekeringan






