Malang (beritajatim.com) – Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GI BEI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (FEB Unisma) mengadakan sukses mengadakan sekolah pasar modal batch XV. Acara ini mengajak generasi Z (gen z) yang notabene mahasiswa untuk meningkatkan literasi keuangan dan kompetensi bidang Pasar Modal.
GI BEI FEB Unisma berkolaborasi dengan PT Bursa Efek Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur dan PT Indopremier Online Trading. Acara ini diadakan Selasa, 9 Januari 2024 secara hybrid.
Dekan FEB Unisma, Nur Diana SE, MSi CBV, CERA mengatakan bahwa akhir 2023 GI BEI FEB Unisma meraih penghargaan sebagai galeri investasi teraktif peringkat 1 dari otoritas jasa keuangan pada ajang bulan inklusi keuangan. Desember 2023 lalu juga mendapat penghargaan nomor 2 sebagai galeri investasi dalam pemerataan dan penyebaran Informasi dari PT Bursa Efek Indonesia dalam gelaran galeri award.
Prestasi juga diraih kelompok studi pasar modal FEB Unisma atas Nama Rika Yunita sebagai best research dalam ajang IPOT buzz research competition 2023. Menurut Dekan, raihan tersebut membuat kegiatan edukasi dan sosialisasi pasar modal menjadi penting.
“Acara sosialisasi yang dikemas program sekolah pasar modal ini sangat penting terutama bagi generasi Z. Bursa efek Indonesia mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia tembus 12,16 juta orang pada 2023,” ungkap Diana, Jumat (12/1/2024)..
Angka tersebut, lanjut Diana, naik 18% atau 1,85 juta orang dari 2022 yang sebesar 10,31 juta investor. Hal tersebut didominasi gen z atau masyarakat kelompok usia di bawah 30 tahun mendominasi investor individu di pasar modal Indonesia.
Menurut Diana, investasi di pasar modal semakin digemari kalangan gen Z. Meski jumlah investor pasar modal naik, masih banyak yang hanya ikut-ikutan dan kurang memahami instrumen investasi yang ada.
“Terkait investasi di pasar modal, investor harus memahami 3P yakni paham, punya, dan pantau. Paham artinya investor memahami tujuan dan tahu karakteristik dari instrumen investasi. P berikutnya ‘punya’, tidak usah banyak-banyak amat di tahap awal investasi,” ungkap Dekan FEB Unisma.
Diana menegaskan bahwa Gerakan Yuks Nabung saham yang digagas PT Bursa Efek Indonesia cukup dengan modal mulai Rp 100.000 saja. Kemudian, P yang terakhir adalah pantau, berarti investor memahami perkembangan ekonomi, kondisi perusahaan yang dapat mempengaruhi pasar modal dan portofolio.
Sementara itu, Asyikin Ashar selaku Senior Trainer PT Bursa Efek Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur mengatakan bahwa masifnya anak muda berinvestasi tak lepas dari masifnya informasi. Saat ini banyak tips dan trik membeli saham melalui kegiatan sekolah pasar modal, webinar, seminar dan upaya untuk meningkatkan literasi keuangan.
“Hal itu menjadi tantangan bagi BEI untuk memberi edukasi pada masyarakat tentang berinvestasi yang aman, nyaman, dan legal. Harus diakui, banyak masyarakat yang akhirnya tertipu dan salah berinvestasi sehingga bukannya mendapatkan uang, tetapi jadi berhutang,” ucap Asikin.
Asikin mengajak peserta untuk memahami investasi pasar modal, seluk-beluk dunia investasi, kondisi fundamental perusahaan yang ada di bursa serta pergerakan harga sahamnya. Ia juga mengajarkan strategi investasi saham di masa pandemi dan strategi mendapatkan keuntungan.
Sementara itu, narasumber Yanuar Priyatno selaku Senior Representative IPOT Malang memperkenalkan IPOT dan berbagai produk IPOT seperti ipotstock, ipotfund, ipotpay dan ipotnews. Dalam investasi, kata dia, harus punya ilmu salah satu tahu berita yang sedang terjadi (hot news).
“Cara transaksinya sendiri sudah bisa diakses secara online, dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun yang penting ada jaringan internet. Mekanisme transaksi saham harus melalui perantara yang dinamakan sekuritas yang nantinya pihak sekuritas meneruskan pada BEI sehingga tidak ada perbedaan harga antara sekuritas dan BEI,” ungkap Yanuar.
Pada aplikasi terdapat bid (pembeli) dan offer (penjual). Tidak hanya perlu juga mengenali potensi untuk membeli saham. Teknik yang sering dipakai biasanya adalah support dan resistance dan trend.
“Untuk analisis ada dua yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Faktanya investasi di pasar modal itu murah, tidak perlu dana besar,” kata Yanuar menegaskan dihadapan peserta. (dan/kun)






