Malang (beritajatim.com) – Awal tahun 2024 beberapa orang merancang daftar hal baik yang bakal dilakukan dalam bentuk resolusi. Meski begitu banyak rencana yang hanya menjadi daftar saja, tanpa terealisasi.
Menurut psikolog dan dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi., dalam mewujudkan daftar resolusi, seseorang perlu memastikan langkah yang diambil terarah. Rencana yang dibuat harus realistis, konkrit dan terarah agar hasilnya sesuai tujuan.
“Jadi bukan hanya menetapkan target, tapi juga langkah-langkah untuk mencapainya. Perlu digaris bawahi sebelum membuat resolusi, seseorang dapat memulai untuk melakukan introspeksi diri di masa lalu sebagai proses pembelajaran,” ungkap Zainul, Rabu (3/1/2024).
Lebih lanjut, Zainul mengatakan ingatan terhadap masa lalu bukan untuk mengingat-ingat hal yang menyedihkan, melainkan sebagai pengalaman hidup bagi rencana berikutnya. Hal yang berhasil menjadi motivasi dan yang gagal menjadi evaluasi diri untuk lebih baik.
Sebuah resolusi dapat berhasil dengan beberapa langkah. Pertama, mengumpulkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang diterima. Hal ini jadi poin untuk mendapatkan suntikan energi positif dalam diri.
“Seseorang akan bersyukur apabila selalu memandang suatu hal dengan positif. Sebaliknya, seseorang akan mengeluh jika memandang sesuatu dengan negatif,” ujar Zainul.

Kedua, perlu skala prioritas yang hendak dicapai selama satu tahun ke depan, misalnya ingin lulus di 2024, menikah, dan beli rumah. Skala prioritas jadi penting karena hal yang kecil selalu mengikuti.
“Analoginya, kita memasukkan banyak barang ke dalam gelas, maka yang perlu dimasukkan adalah yang besar terlebih dahulu. Dengan demikian, yang kecil akan mengikuti dan jadi terpenuhi,” terangnya.
Ketiga, menuliskan hal jadi keinginan atau target sehingga diingat dan dipikirkan. Perlu diketahui bahwa pola kerja pikiran itu seperti magnet, apapun yang selalu diingat dan dipikirkan akan mendekat ke dalam diri.
Keempat, menjalin relasi yang berkaitan dengan resolusi diri. Jika ingin lulus, maka carilah lingkungan yang juga punya niatan lulus tepat waktu. Ini penting untuk menciptakan iklim yang baik.
Kelima, restu orangtua dan doa. Keberadaan doa untuk mengurangi rasa kecewa saat hal yang diinginkan belum tercapai. Doa juga dapat menguatkan mental dan spiritual.
“Bagi seseorang yang tidak punya resolusi atau meyakini bahwa hidup sudah ditakdirkan itu bukan hal salah. Masalahnya ketika seseorang menjalani hidup mengalir saja tanpa ada pegangan atau dasar yang pasti. Hal itu bisa menjadikan seseorang mudah terombang-ambing, frustasi, dan stres karena tidak punya tujuan jelas dalam hidup,” ujarnya.
Di akhir, dosen UMM ini berpesan pentingnya refleksi diri sebagai manusia yang punya akal pikiran yang sehat. Apapun yang hendak dilakukan dan dicapai, harus dipikir secara logis, rasional, dan memperhatikan setiap konsekuensinya.
“Jangan mudah terbawa emosi sebelum bertindak, agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama dan menyesal kemudian,” jelasnya menutup. [dan/beq]






