Surabaya (beritajatim.com) – Inggris adalah negara pertama yang menyetujui vaksin versi terbaru Moderna. Vaksin ini dipercaya menghasilkan respons kekebalan tubuh yang kuat terhadap virus Covid-19 (2020) asli dan varian Omicron.
Melansir Reuters, Inggris pada hari Senin (15/08/22) menjadi negara pertama yang mengesahkan vaksin versi terbaru corona yang menargetkan dua varian virus, yakni Covid-19 asli dan Omicron, dimana dua varian virus ini yang paling dominan selama musim dingin.
Dalam uji klinis, vaksin versi terbaru dari vaksin Moderna menghasilkan respons imun yang baik terhadap dua varian ini, serta subvarian BA.4 dan BA.5 pada orang dewasa.
Dr. June Raine, kepala eksekutif Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris, mengatakan senang bahwa vaksin booster baru telah memenuhi standar keamanan, kualitas, dan efektivitas regulator.
Pernyataan ini didukung oleh badan penasihat ilmiah ahli independen Inggris, devisi Obat-obatan Manusia.
“Vaksin Covid-19 generasi pertama yang digunakan di Inggris terus memberikan perlindungan penting terhadap penyakit dan menyelamatkan nyawa,” kata Dr. Raine. “Apa yang diberikan oleh vaksin bivalen ini kepada kita adalah perlindungan yang baik untuk membantu melindungi kita dari penyakit ini karena virus terus berkembang.”
Efek samping yang mungkin terjadi relatif sama dengan yang terlihat pada dosis booster Moderna asli tanpa masalah yang serius, kata regulator obat Inggris (MHRA).
Di Indonesia sendiri vaksin Moderna versi lama telah didistribusikan sejak 1 Agustus 2021 sebanyak 3,5 juta dosis. Belum ada tanggapan dari negara lain, termasuk Indonesia mengenai distribusi lebih lanjut vaksin Moderna varian terbaru ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kesehatan”]
Sebelum ini, CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan, masyarakat dunia perlu segera melakukan vaksin dosis ke-4. Booster vaksin ini dinilai menjadi suatu keharusan karena keefektifannya terutama bagi masyarakat yang tinggal di negara empat musim.
Inggris sendiri memiliki tingkat vaksinasi yang tinggi secara keseluruhan, dengan 76 persen populasi divaksinasi dosis penuh dan 60 persen lainnya telah menerima dosis tambahan.
Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, 67 persen populasi telah divaksinasi lengkap, dan hanya 32 persen yang menerima dosis tambahan. (Kai/ian)






