Kediri (beritajatim.com) – Industri pengolahan tembakau di Kabupaten Kediri tetap menjadi salah satu penopang ekonomi lokal. Produksi sekitar 1.000 ton pada 2025 dan potensi nilai ekonomi mencapai Rp35 miliar. Pencapaian itu di tengah tantangan cuaca ekstrem, perubahan pola budidaya, serta tekanan regulasi terhadap industri hasil tembakau nasional.
Budidaya tembakau di Kabupaten Kediri tersebar di sejumlah kecamatan seperti Tarokan, Grogol, Banyakan, Semen, Purwoasri, Gampengrejo, hingga sebagian wilayah Papar. Komoditas yang dominan ditanam adalah tembakau jenis lori atau nori, yang sebagian besar dipasarkan melalui kemitraan dengan perusahaan pengolah tembakau PT Sadana.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi melalui Fungsional Pengendali Hama Penyakit Perkebunan Ahli Muda Tri Hadi, menjelaskan bahwa luas tanam tembakau di Kediri pada 2025 mencapai sekitar 900 hektare. Produktivitas rata-rata sekitar 1.050 kilogram rajangan kering per hektare.
“Untuk tahun 2025 budidaya tembakau di Kabupaten Kediri tersebar di beberapa kecamatan seperti Tarokan, Grogol, Banyakan, Semen, Purwoasri, Gampeng dan sebagian Papar. Secara umum tembakau yang ditanam adalah tembakau jenis lori,” kata Tri Hadi kepada beritajatim.com, Senin (16/3/2026).
Tingkat Produktivitas
Ia menjelaskan, hasil panen tembakau diukur dalam bentuk rajangan kering. Rata-rata produksi mencapai sekitar satu ton per hektare, meski produktivitas tiap wilayah berbeda tergantung karakteristik lahan.
Menurut Tri Hadi, wilayah dengan produktivitas relatif tinggi berada di Kecamatan Purwoasri dan Tarokan. Kedua wilayah ini memiliki kondisi tanah dan agroklimat yang lebih cocok untuk budidaya tembakau dibanding wilayah lain.
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa pada 2024 luas tanam tembakau mencapai 910 hektare yang tersebar di 12 kecamatan dari total 26 kecamatan di Kabupaten Kediri. Kecamatan Tarokan menjadi sentra terluas dengan 399 hektare, disusul Grogol 269 hektare dan Purwoasri 65 hektare.

Total produksi tembakau pada tahun tersebut mencapai 966 ton dengan produktivitas rata-rata 1.061 kilogram per hektare per tahun. Sebanyak 1.361 kepala keluarga terlibat sebagai petani tembakau dengan rata-rata kepemilikan lahan antara 0,5 hingga 0,7 hektare.
Namun, kondisi produksi pada 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Penyebab utama adalah fenomena kemarau basah yang dipicu anomali iklim La Nina sehingga hujan masih terjadi pada periode Mei hingga September.
“Produktivitas rata-rata kita memang turun karena tahun 2025 itu kondisi kemarau basah atau La Nina. Pada bulan-bulan Mei sampai September masih turun hujan, sementara tanaman tembakau memang rentan terhadap hujan,” ujar Tri Hadi.
Curah hujan tinggi tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengganggu proses pascapanen. Tembakau yang telah dirajang harus dijemur dalam kondisi panas agar kualitasnya optimal. Ketika proses pengeringan terganggu mendung atau hujan, warna dan aroma tembakau menjadi kurang baik sehingga berdampak langsung pada harga jual.
Tri Hadi menjelaskan bahwa kualitas tembakau ditentukan oleh tiga indikator utama yakni warna, tekstur, dan aroma.
“Kalau tembakau Virginia atau nori, yang diminta warnanya kuning seperti emas. Kedua diraba, tembakau yang bagus itu liket atau sedikit lembab karena kadar nikotinnya cukup. Ketiga dari aromanya,” katanya.
Kontribusi Ekonomi
Meski menghadapi tantangan cuaca, sektor tembakau tetap memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi Kabupaten Kediri. Dengan produksi sekitar 1.000 ton dan harga rata-rata Rp35.000 per kilogram, perputaran ekonomi tembakau di daerah ini mencapai sekitar Rp35 miliar per musim.
Pada kondisi iklim yang ideal, nilai ekonomi tersebut bahkan bisa meningkat dua kali lipat. Tri Hadi menyebut bahwa pada musim panen terbaik tahun 2023, produksi tembakau Kediri pernah melampaui 2.000 ton.
“Kalau produksi 2.000 ton dikalikan harga Rp35.000 per kilogram, omsetnya bisa mencapai Rp70 miliar. Padahal bantuan pemerintah untuk petani mungkin sekitar Rp5 miliar, tetapi bisa mengungkit nilai ekonomi sebesar itu,” ujarnya.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri selama ini memberikan berbagai bentuk fasilitasi kepada petani tembakau, mulai dari bantuan pupuk, bibit, sarana pengeringan, alat perajang tembakau, hingga pelatihan teknis budidaya.
Bantuan pupuk yang diberikan meliputi ZA, Pozmat, kalium, pupuk daun seperti MKB serta dukungan sarana produksi lain yang bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas tembakau.
Gudang Garam
Keberadaan industri rokok besar di Kediri juga menjadi faktor penting yang mendukung ekosistem ekonomi tembakau di wilayah ini, terutama perusahaan rokok nasional seperti Gudang Garam Tbk yang memiliki kantor pusat dan fasilitas produksi di Kota Kediri.
Meski demikian, Tri Hadi menegaskan bahwa tembakau Kediri tidak secara langsung menjadi bahan baku utama bagi Gudang Garam. Hal itu karena perbedaan jenis tembakau yang digunakan.
Menurutnya, Gudang Garam lebih banyak menggunakan tembakau aromatik lokal dari daerah seperti Madura, Temanggung, dan Jombang yang memiliki karakteristik rasa dan aroma khas.
“Kalau Gudang Garam itu yang dicari tembakau tipe Madura, Temanggung, dan Jombang. Itu tembakau aromatik lokal, tetapi produktivitasnya per hektare relatif rendah,” kata Tri Hadi.
Sebaliknya, tembakau yang berkembang di Kediri merupakan varietas Virginia dan nori yang sejak awal dibudidayakan melalui kemitraan dengan industri rokok sejak sekitar 2012.
Meski tidak langsung menyerap tembakau lokal, keberadaan Gudang Garam tetap memberi dampak ekonomi besar bagi Kediri melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) yang dikembalikan ke daerah.
Dana tersebut kemudian digunakan pemerintah daerah untuk mendukung kesejahteraan petani tembakau melalui berbagai program bantuan, pelatihan, hingga peningkatan sarana produksi pertanian.
“Karena kantor pusat dan pabrik Gudang Garam ada di Kediri, cukainya dibayar dari Kediri. Sehingga ada dana bagi hasil cukai yang kembali ke daerah, dan itu kita kembalikan lagi ke petani tembakau berupa bantuan pupuk, alat perajang, pelatihan dan sebagainya,” jelas Tri Hadi.

Tantangan Petani
Di tingkat petani, tantangan budidaya tembakau juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha tani seperti Fitria, ketua Kelompok Tani Rukun di Desa Gambyok, Kecamatan Grogol.
Perempuan yang telah menanam tembakau sejak 2014 itu mengelola lahan sekitar 250 rhu atau sekitar 0,5 hektare. Dalam kondisi normal, ia bisa memperoleh omzet panen sekitar Rp24 juta hingga Rp25 juta.
Namun pada musim tanam dengan curah hujan tinggi, produksi tembakau mengalami penurunan signifikan.
“Tahun 2025 gagal panen karena cuaca. Banyak hujan, padahal tembakau mintanya kering. Kalau air banyak tanaman layu,” kata Fitria.
Menurutnya, siklus tanam tembakau biasanya dimulai pada Mei setelah panen padi selesai dan berlangsung sekitar 85 hingga 90 hari hingga masa panen.
Setelah dipanen, daun tembakau tidak langsung dirajang tetapi didiamkan hingga berubah warna menjadi kuning selama dua hari sebelum diproses menjadi rajangan dan dijemur.
Fitria menjelaskan bahwa biaya operasional untuk lahan 0,5 hektare berkisar antara Rp5 juta hingga Rp6 juta per musim tanam. Bibit tembakau diperoleh dalam paket kemitraan dengan PT Sadana yang mencakup benih, plastik pembibitan, serta obat hama.
Meski menghadapi risiko cuaca dan serangan hama, kemitraan dengan perusahaan pengolah tembakau dinilai memberikan kepastian pasar bagi petani.
Kebijakan Pemerintah
Di tengah dinamika produksi di tingkat petani, sektor industri hasil tembakau nasional juga menghadapi tekanan kebijakan baik fiskal maupun nonfiskal.
Kenaikan tarif cukai rokok yang rata-rata mencapai sekitar 11 persen per tahun serta kebijakan pembatasan kadar nikotin dan tar menjadi tantangan bagi industri rokok nasional, yang selama ini menyerap sebagian besar produksi tembakau rakyat.
Regulasi tersebut mengacu pada implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Keuangan Negara.
Dalam konteks ini, karakter tembakau Kediri relatif tidak terlalu terdampak karena varietas yang ditanam memiliki kadar nikotin rendah.
“Kebetulan yang ditanam di Kediri ini tembakau Virginia dan nori yang memang nikotinnya rendah. Bahkan pabrikan justru kadang meminta nikotinnya dinaikkan,” kata Tri Hadi.
Ia menyebut bahwa kadar nikotin tembakau Kediri saat ini berkisar antara 1 hingga 1,3 persen, sementara kebutuhan industri bisa mencapai sekitar 2 persen.
Perbaikan kadar nikotin tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui teknik budidaya seperti penggunaan pupuk organik atau peningkatan unsur nitrogen pada tanah.
Di sisi lain, keberadaan industri rokok juga masih menjadi penopang utama perekonomian Kota Kediri.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kediri, M. Ferry Djatmiko, menyatakan bahwa sektor industri pengolahan khususnya pabrik rokok masih mendominasi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota.
“PDRB Kota Kediri sebagian besar dikuasai industri pengolahan khususnya pabrik rokok. Kontribusinya pernah mencapai 80 persen, sekarang sekitar 78 persen,” kata Ferry.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah tetap mendukung keberlanjutan industri tersebut karena kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja, penerimaan cukai, serta pertumbuhan ekonomi daerah, sambil mendorong pengembangan sektor ekonomi lain seperti perdagangan, UMKM, perhotelan, dan jasa.
Dengan kombinasi faktor agroklimat, dukungan pemerintah daerah, kemitraan industri, serta kontribusi sektor rokok terhadap ekonomi lokal, industri tembakau di Kediri masih dipandang sebagai salah satu ekosistem ekonomi penting yang menghubungkan sektor pertanian rakyat dengan industri manufaktur nasional. [nm/but]






