Jember (beritajatim.com) – Indonesia menjadi sumber inspirasi Arab Saudi dalam membangun jejaring peradaban. Sejumlah ulama Indonesia menjadi tokoh yang dihormati dalam bingkai keimanan dan keilmuan di Arab Saudi.
Hal ini dikemukakan Moch, Eksan, dosen mata kuluah Ahlusunnah wal Jamaah Universitas PGRI Argopuro di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (25/6/2023). “Orang Arab menyebut Indonesia qais, sebuah negara mayoritas muslimin yang baik. Selain, orang Indonesia mendatangkan riyal pada Arab Saudi, juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun peradaban,” katanya.
Menurut Eksan, ulama nusantara banyak yang bermukim di Arab Saudi sebagai muthawwib dan pengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sejumlah nama yang bisa disebut adalah Syeikh Nawawi Aljawi Albantani, Syeikh Khatib Alminangkabawi, Syeikh Yusuf Almakasari. “Mereka berkontribusi dalam mengenalkan budaya Indonesia yang tak kalah dalam penguasaan khazanah intelektual Islam dunia,” katanya.
Universitas Majma’ah di wilayah Riyadh kini memilik jurusan Bahasa Indonesia. Arab Saudi tengah mengembangkan kajian keindonesiaan atau Indonesian Studies. “Banyak hal yang bisa dipelajari dari Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia. Arab Saudi nampak berkepentingan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi wisata religi, tapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan,” kata Eksan.
Eksan meyakini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arab Saudi melihat urgensi Bahasa Indonesia bagi kaum terdidik yang memegang rentang kendali politik dan ekonomi, baik dalam maupun luar negeri. “Bahasa Indonesia tak hanya menjadi bahasa pedagang, tapi juga bahasa para elite pemerintah dan dunia usaha dalam proses diplomasi, perundingan serta perjanjian dagang antar negara di dunia,” katanya.
Dalam pandangan Arab Saudi, pada akhirnya Bahasa Indonesia tak kalah penting dibandingkan Bahasa Inggris dan China. Bahasa Indonesia yang masuk rumpun Malayanik memiliki hampir 300 juta orang pengguna. Penggunanya bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Pulau Natalm dan Cocos Thailand Selatan.
Bahasa Indonesia memiliki penutur terbesar peringkat 10 dunia. Di atasnya secara berurutan: Bahasa Inggris 1,12 miliar penutur, Bahasa China 1,10 miliar penutur, Bahasa Hindi 698 juta penutur, Spanyol 512 juta penutur, Bahasa Prancis 284 juta penutur, Bahasa Arab 273 juta penutur, Bengali 265 juta penutur, Bahasa Rusia 258 juta penutur, Portugis 234 juta penutur.
“Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mencerminkan kehalusan budi dan ketinggian adab. Bahasa ini merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer dan digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri,” kata Eksan.
Arab Saudi terhitung telat dibandingkan negara lain. Sebelumnya ada tujuh universitas luar negeri yang mengembangkan studi Bahasa Indonesia, antara lain Hankuk University of Foreign Studies Korea Selatan, Tokyo University for Foreign Studies Jepang, University of Melbourne Australia, Leiden University Belanda, University of Hawaii at Manoa Hawai, SOAS University of London Inggris, dan Yale University Amerika Serikat.
“Keberadaan jurusan atau program studi Bahasa Indonesia di berbagai perguruan tinggi tersebut akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Wabilkhusus, bangsa ini dikenal bukan melulu penyedia tenaga kerja rumah tangga nantinya, tapi juga dapat menyuplai informasi yang diperlukan untuk para kaum terdidik di Arab Saudi,” kata Eksan. [wir]






