Jombang (beritajatim.com) – Imlek dan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ibarat dua keping mata uang yang tak bisa dipisahkan. Diperbolehkannya perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia tidak lepas dari peran Gus Dur. Itulah kenangan yang disampaikan oleh pegiat wayang Potehi dari Kelenteng Hong San Kiong Kecamatan Gudo Jombang, Toni Harsono alias Tok Hok Lay.
Oleh sebab itu, setiap perayaan Imlek, selain mengirim doa untuk dewa, warga Tinghoa di Kelenteng Hong San Kiong Kecamatan Gudo selalu mengirim doa untuk arwah Gus Dur. “Karena jasa beliau untuk umat Khonghucu sangat besar. Gus Dur itu pahlawannya orang Tinghoa. Bapaknya orang Tinghoa. Kita bisa merayakan Imlek secara terbuka berkat Gus Dur,” ujar Toni, Kamis (19/1/2023).
Toni menjelaskan, segala persiapan di Kelenteng Hong San Kiong. Di antaranya adalah memandikan patung dewa. Karena, satu minggu sebelum Imlek, dewa dewa naik ke langit. Sehingga Klenteng dibersihkan, patung-patung dimandikan. Penyucian patung dewa dilakukan menggunakan air bercampur bunga.
[berita-terkait number=”3″ tag=”imlek”]
Patung-patung yang dimandikan antara lain patung dewa Kongco Kong Tik Tjoen Ong, Dewi Kwan Im dan lain sebagainnya. “Empat hari setelah Imlek, dewa turun lagi. Sehingga kita melakukan sembahyang lagi. Tentu saat Imlek kami juga sembahyang di Klenteng. Kemudian silaturahmi ke keluarga,” kata Ketua Yayasan Klenteng Hong San Kiong, Toni Harsono.
Delapan hari setelah Imlek, lanjut Toni, umat Khonghucu kembali melakukan sembayang besar. Lalu ditutup pada hari ke-15 setelah Imlek dengan upacara Cap Gomeh. “Itu acara yang kita lakukan di Klenteng Hong San Kiong Gudo. “Imlek tahun ini lebih spesial. Karena tidak ada lagi pembatasan. Harapan kami Imlek tetap membawa berkah,” lanjut pegiat wayang Potehi ini.
Hanya saja, untuk Imlek tahun ini, pihaknya tidak menggelar pementasan wayang Potehi di Klenteng Gudo. Pasalnya, Toni Harsono melakukan pentas di Pasar Semawis kawasan pecinan Kota Semarang. “Besok saya berangkat ke Semarang. Pentas wayang Potehi menjelang Imlek,” ujar Toni.

Menurut Toni, dirinya mencintai kesenian asli Tionghoa itu sejak kecil. Kakeknya Tok Su Kwie dan ayahnya Hok Hong Kie merupakan dalang wayang potehi, darah seni yang diwarisinya pun membuat dia getol melestarikan wayang potehi. Terbaru, Toni tampil dalam Tong Tong Fair di Belanda, pada 1-11 September 2022.
Tong Tong Fair (TTF), adalah festival budaya Asia dan Indonesia terbesar di Belanda, dan merupakan ajang pagelaran seni dan budaya Asia-Pasifik yang tertua di Belanda. Padahal sebelumnya, kesenian tersebut sempat mati suri selama kurang lebih 30 tahun.
[berita-terkait number=”3″ tag=”gus-dur”]
Namun selama orde baru, warga Tiong Hoa dibatasi dalam bereskpresi. Perayaan Imlek dilarang. Seni budaya dari Tionghoa tak boleh ditampilkan di muka umum. Baru pada pada masa pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, kesenian itu hidup kembali. Karena Gus Dur mencabut Instruksi Presiden atau Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan perayaan Tahun Baru Imlek di tempat-tempat umum di Indonesia.

Pada tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres tersebut dengan mengeluarkan Keppres nomor 6 tahun 2000 tentang pencabutan Inpres Nomor 14 tahun 1967. Keppres tersebut menjadi awal bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, serta adat istiadat mereka, termasuk upacara keagamaan seperti Imlek secara terbuka.
“Itulah angin segar bagi kaum Tionghoa. Imlek boleh dirayakan secara umum. Wayang Potehi boleh pentas. Barongsai juga bebas. Makanya bagi kami, Gus Dur itu pahlawan warga Tionghoa. Gus Dur itu Bapak Tinghoa. Peran Gus Dur sangat besar bagi kami,” ujar warga Desa/Kecamatan Gudo Jombang ini. [suf/ted]






