Jakarta (beritajatim.com) – IBL 2024 akan menerapkan salary cap. Ini menjadi salah satu kebijakan baru yang diterapkan di ajang tersebut. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing antarklub, pemerataan sumber pemain, dan membatasi nilai pengeluaran klub.
Dalam laman resmi IBL dijelaskan, salary cap yang dimaksud adalah akumulasi batasan atas dan/atau batasan bawah dari total gaji seluruh pemain dalam satu klub yang dihitung dalam 1 (satu) tahun.
IBL menegaskan bahwa mulai musim 2024, setiap klub wajib mengikuti ketentuan batas minimum dan maksimum dari salary cap yang ditentukan oleh liga. Salary cap ini akan diberlakukan sejak persiapan memasuki musim kompetisi 2024.
“Poin-poin utamanya yang harus diperhatikan dalam salary cap adalah, ini merupakan jumlah gaji, termasuk gaji ke-13 dan nilai kontrak seluruh pemain (termasuk pemain asing, lokal naturalisasi, dan heritage) dalam satu tahun. Namun tidak memperhitungkan nilai-nilai seperti insentif, sekolah, tempat tinggal, dan faktor penunjang lainnya. Salary cap dihitung berdasarkan kontrak yang diberikan atas dasar nama pemain yang terdaftar dalam roster. Sementara itu, pemantauan dan transparansi dilakukan dengan pemeriksaan pajak beserta audit keuangan klub dan pemain,” jabar operator liga basket profesional di Indonesia itu.
IBL menegaskan bahwa salary cap yang diterapkan untuk ke-14 kontestan liga adalah Rp10 miliar untuk batas bawah (soft cap), dan Rp12 miliar untuk batas atas (hard cap). Jika ada yang melanggar batas-batas tersebut, akan ada sanksi yang diterima.
Pertama, jika ada pengeluaran klub di atas Rp10 miliarh, maka klub dikenakan sanksi administrasi sebesar 1:1. Artinya, jika ada klub dengan pengeluaran Rp11 miliar, maka klub itu harus membayar kelebihan Rp1 miliar tersebut dengan nilai yang sama. Denda tersebut dibayarkan kepada liga dan akan didistribusikan secara merata kepada klub lainnya.
Jika ada klub melebihi batas atas (Rp12 miliar), maka denda administrasinya juga 1:1, dan saksi pemotongan nilai/poin pertandingan selama 3 (tiga) musim kompetisi ke depan.
Sebagai contoh, ketika ada tim dengan pengeluaran Rp13 milair, maka tim tersebut dikenakan denda sebesar Rp3 miliar, yang akan dibayarkan kepada liga dan didistribusikan kepada ke-13 klub peserta liga lainnya. Namun tidak hanya itu, tim tersebut juga akan dikurangi poin pertandingan selama tiga musim.
“Diharapkan dengan adanya salary cap ini, distribusi pemain akan lebih merata. Sehingga ketimpangan dalam permainan bisa lebih diminimalisir. IBL 2024 tinggal menghitung hari lagi, karena pertandingan pertama akan berlangsung pada 13 Januari mendatang.” [faw/suf]






