Malang (beritajatim.com) – Seiring bertumbuhnya pengguna media sosial di Indonesia, brand-brand ternama semakin masif dalam memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk maupun jasa mereka. Hal ini akhirnya memicu lahirnya profesi baru yang menjanjikan, yakni menjadi influencer.
Influencer kerap dipilih untuk memasarkan produk dan jasa suatu brand, karena telah memiliki basis audiens yang besar dan memiliki kedekatan secara emosional melalui interaksi yang dibangun melalui platform media sosial.
Namun, di satu sisi brand kerap mengalami kesulitan menemukan influencer yang cocok dengan citra mereka. Di sisi lain, influencer juga kerap mengalami kesulitan dalam menemukan brand yang menarik untuk diajak bekerja sama sesuai dengan persona mereka.
Permasalahan inilah yang coba diselesaikan oleh IAM.ID, startup asal Bandung yang menjadi wadah bagi para influencer dan berbagai brand untuk bertemu dan berkolaborasi dalam sebuah campaign.
“Hingga saat ini IAM.ID sudah memiliki 200.000 influencer yang tersebar di seluruh Indonesia, telah bekerja sama dengan 2.000 brand, serta memiliki beberapa partner di kawasan Asia Tenggara. Kebetulan sudah ada kolaborasi juga dengan brand-brand yang berasal dari Tiongkok dan Malaysia,” ungkap Icha Febriana, CEO IAM.ID.
Untuk bergabung dalam komunitas influencer IAM.ID, hanya perlu memiliki 1.000 pengikut (followers) di platform Instagram ataupun TikTok. Selain itu, IAM.ID juga menggunakan AI untuk membantu mencocokan brand dan influencer yang cocok dalam menjalankan suatu campaign.
“Jika sistem sudah mendeteksi akun tersebut memiliki minimum followers yang diperlukan, nanti bisa langsung terdaftar dan bisa ikut campaign. Selanjutnya akan dikurasi siapa yang cocok menjalankan campaign tersebut,” papar Icha.
“IAM.ID ini menggunakan teknologi AI, dimana kita bisa mencocokan persona influencer dengan brand yang akan menjalankan campaign,” lanjutnya.
Dengan jumlah komunitas influencer yang besar, brand yang ingin berkolaborasi dengan IAM.ID tak perlu takut dengan oknum yang mencurangi engagement seperti membeli followers ataupun likes.
Hal tersebut dikarenakan IAM.ID memiliki sistem yang dapat mendeteksi bila influencer tersebut menggunakan bot untuk membangun portofolio media sosial yang tidak organik. Tentunya dapat meminimalisir influencer yang menggunakan bot dalam membangun portofolio media sosial mereka.
“Biasanya teman-teman yang memiliki engagement yang tidak organik, menaruh hashtag bot di postingannya, nah itu bisa terdeteksi. Selanjutnya misal saat di reporting ternyata jangkauan iklannya ada anomali. Misal jangkauannya kecil tapi likesnya besar, itu probabilitasnya memang menggunakan bot,” jelas Icha.
Berbagai brand ternama yang telah melakukan kolaborasi dengan IAM.ID. Mulai dari sektor pariwisata seperti Aston Group, produk kecantikan, hingga perbankan seperti KB Bukopin.
Sebagai platform anak bangsa yang menawarkan kemudahan bagi kolaborasi antara brand dan influencer, Icha berharap IAM.ID kedepannya dapat melakukan ekspansi ke luar negeri.
“Harapannya di 2024 kami bisa melebarkan sayap di Asia Tenggara dulu, berpartner dengan beberapa negara tetangga dalam endorsement dan influencer di Indonesia. Selain itu kami berharap teknologi kami bisa lebih presisi lagi untuk menemukan influencer yang tepat bagi brand, khususnya pelaku UMKM,” tutupnya.
=====================
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






