Ponorogo (beritajatim.com) – Hutan jati seluas 25 hektare di dua gunung Kabupaten Ponorogo terbakar hebat beberapa hari lalu. Lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu tepatnya di Gunung Gombak Kecamatan Balong dan Gunung Sarean di Kecamatan Kauman.
Karhutla juga berdampak ke empat desa yakni Muneng, Tatung, Nglarangan, dan Sukosari. Kebakaran ini diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan oleh warga setempat.
“Untuk kebakaran di Gunung Gombak dan Sarean yang terletak di 2 kecamatan yang meliputi 4 desa ini, luas yang terbakar seluas 25 hektare. Dan ini merupakan kebakaran untuk ketiga kalinya,” kata Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, Rabu (21/8/2024).
Pasca kebakaran itu, Masun menyebut pihaknya bersama dengan Kepolisian dan Perhutani telah melakukan patroli dan sosialisasi dengan mengunjungi 4 desa terdampak dari kebakaran tersebut. Pihak Kepolisian menjelaskan bahwa membakar hutan merupakan tindak pidana dan bisa dipenjara.
Dari kunjungan gabungan ke desa-desa itu, telah diakui bahwa pembakaran dilakukan oleh warga. Pembakaran lahan di hutan jati itu, warga beralasan membersihkan dari daun jati yang sudah kering.
“Informasi dari bapak kepala desa bahwa ada warga memang yang sengaja membakar, dengan alasan membersihkan lahan dari daun jati yang kering,” katanya.
Meski lahan yang dibakar diklaim milik pribadi, Masun menegaskan pembakaran lahan memiliki dampak lingkungan yang serius. Ia menyebutkan bahwa vegetasi kecil akan mati. Otomatis akar tumbuhan yang mengikat tanah akan berkurang. Imbasnya, akan berpotensi menjadi erosi saat hujan dan kekurangan air saat musim kemarau.
“Dengan pembakaran itu, vegetasi kecil akan mati, sehingga akar yang mengikat tanah akan berkurang. Nah, itulah nantinya akan berpotensi terjadi erosi dan kekurangan air saat musim kemarau,” katanya.
Dalam kesempatan itu, masyarakat juga diingatkan tentang sanksi pidana bagi perorangan maupun korporasi yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan. Petugas gabungan pun terus melakukan sosialisasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kita tahu sendiri, ketika ada pembakaran, dampak lingkungannya akan rusak,” pungkasnya. [end/beq]






