Hukum & Kriminal

Sidang Perdana, Kuasa Hukum Ryantori: Dakwaan Jaksa Terlalu Melebar

Sidoarjo (beritajatim.com) – Sidang perkara atas nama terdakwa Ir. Ryantori Angka Raharja digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Rabu (30/9/2020). Sidang Nomor 723/Pid.Sus/PN/SDA dipimpin oleh hakim Achmad Peten Sili dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Sidoarjo.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) disebutkan terdakwa Ir. Ryantori, membuat, menggunakan, dan menjual konstruksi Jaring Rusuk Beton Pasak Vertikal (JRBPV) yang persis dengan Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) milik PT Katama Suryabumi.

Beberapa gedung yang dibangun dengan konstruksi JRBPV antara lain, Perkantoran RSUD Sumenep, Gedung IGD RSUD Sidoarjo, dan Gedung Mapolda Riau. Dalam surat dakwaan, Ir. Ryantori disebut telah melakukan hal tersebut tanpa izin pemegang paten yaitu PT Katama Suryabumi.

Penemu KSLL sendiri adalah Ir. Ryantori dan (alm) Sucipto. Ir. Ryantori, dengan PT Cipta Anugerah Indotama (CAI) disebut menggunakan KSLL dengan nama Jaring Rusuk Beton Pasak Vertikal (JRBPV) dengan sedikit memodifikasi dengan menambahkan beberapa rusuk.

Baca Juga:

    Atas perbuatan terdakwa, PT Katama Suryabumi menderita kerugian immaterial dan kerugian materi senilai Rp 20 Miliar. Perbuatan terdakwa berupa tindak pidana paten, diancam dengan pasal 161 junto pasal 160 UU no 13 Tahun 2016 tentang Paten.

    Kuasa hukum Ir. Ryantori, M. Syahrul Borman mengatakan bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlalu melebar dan tidak fokus keberadaan perkara.

    “Klien kami adalah penemu kontruksi ini, dan klien kami tidak melakukan tuduhan yang didakwakan JPU. Klien kami memodifikasi temuanya agar lebih kokoh lagi, dan tidak memakai nama Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) perbaikan milik PT Katama Suryabumi,” katanya usai sidang.

    Lanjut Syahrul, tak hanya itu, dakwaan jaksa juga terlalu melebar. Fokus perkara yang seharusnya hanya di proyek pembangunan RSUD Sidoarjo, tapi dalam dakwaan klien kami juga harus bertangung jawab di proyek Riau dan di Sumenep Madura. “Kan itu terlalu melebar, saya menyayangkan dakwaan jaksa tersebut,” tegasnya.

    Syahrul menambahkan, klien-nya (Ir. Ryantori) juga tidak menerima royalti dari PT Katama Suryabumi selama 12 tahun. “Klien kami penemu kontruksi ini bersama almrhum Pak Cip. Dan klien kami juga 12 tahun tidak menerima royalti. Klien kami tidak melakukan penjiplakan, wong itu temuanya sendiri kok,” tukasnya.

    Syahrul juga menilai bahwa kasus ini seharusnya masuk ranah perdata bukan pidana. Dakwaan jaksa akan dijawabnya dalam sidang lanjutan dengan agenda eksepsi, Senin (12/10/2020).

    Sementara itu, Ir Ryantori menambahkan bahwa dirinya menolak kalau dikatakan plagiat (jiplak). Judul perkara ini menjadi lucu dan aneh. Dirinya sebagai penemu Konstruksi Fondasi Jaring Rusuk Beton Pasak Vertikal digugat telah menjiplak Kostruksi Perbaikan Konstruksi Sarang Laba Laba temuanya sendiri.

    “Kan kedua struktur pondasi itu dua duanya saya yang menemukan. Saya menyesal terlalu percaya dengan mantan anak buah saya itu. Saya serahkan semua kasus ini ke penasehat hukum saya. Fakta dan keadilan pasti akan terkuak dipersidangan nanti,” tegasnya. [isa/suf]





    Apa Reaksi Anda?

    Komentar