Hukum & Kriminal

Sidang Pencabulan Oknum Pendeta Digelar Perdana

Surabaya (beritajatim.com) – Sidang perdana yang mendudukkan HL sebagai terdakwa digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (18/5/2020). Oknum pendeta di gereja Happy Family Center menjalani sidang secara tertutup untuk umum dan dipimpin oleh ketua majelis hakim Yohanes.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Jatim yakni Sabetania R. Paembonan dan Rista Erna dengan agenda pembacaan surat dakwaan dari JPU dan dilanjut dengan pembacaan eksepsi dari penasehat hukum terdakwa.

Terpisah, Aden selaku juru bicara dari keluarga korban mengatakan korban dilecehkan saat berusia 12 tahun dan kini korban 26 tahun. Pada saat melakukan pelecehan, terdakwa melakukan dengan ancaman kepada korban. “Menurut penuturan dari korban. Terdakwa melakukan pelecehan kepada korban dalam satu minggu bisa sampai 4-5 kali. Dan itu dilakukan mulai tahun 2005 sampai 2011,”terangnya.

Atas dari perbuatan terdakwa, lanjut Aden korban mengalami trauma berat dan berulangkali ingin mencoba bunuh diri. “Dampak dari tindakan ini, membuat anak kami berulangkali mencoba bunuh diri. Jadi bisa dibayangkan trauma yang amat sangat dialami korban ini,”pungkasnya.

Sementara, penasehat hukum terdakwa yakni Jefri Simatupang dari LBH Mawar Saron mengatakan merasa keberatan atas sidang perdana ini. Menurutnya, terdakwa masih mengajukan sidang praperadilan.

“Ada ketidak kelaziman, karena perkara ini begitu cepat. Dan praperadilan kami masih berlangsung. Yang menjadi pertanyaa kami, apakah ini upaya untuk menggugurkan praperadilan kami,”katanya.

Perlu diketahui, pengungkapan pendeta cabul ini setelah Jeanie Latumahina. Aktifis perempuan yang diminta mengawal kasus yang telah dilaporkan ke Polda Jatim pada 20 Februari 2020 dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT.

Setelah mendapatkan laporan dari pihak keluarga (korban). penyidik Subdit I Renakta Ditreskrimum Polda Jatim. Melakukan penyidikan dan langsung memanggil beberapa saksi. Dari pemanggilan saksi, pendeta pun akhirnya ditangkap saat akan pergi ke luar negeri dan ditetapkan tersangka atas kasus pencabulan.

Terungkapnya kasus ini, berawal ketika korban berinisial IW (26) akan melangsungkan pernikahan. Namun, IW (korban) menolak untuk dinikahkan di gereja tempat dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari pemuka agama (pendeta) nya sendiri.

Saat mengetahui dia akan mendapatkan pemberkatan oleh pendeta (tersangka) pencabulan. Ia lantas berontak dan enggan untuk menikah dan akhirnya pernikahannya pun batal. Dari situ, orang tua IW (korban) lantas mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mendapatkan cerita dari anaknya IW (korban), orang tua nya pun langsung melaporkan prilaku bejat pendeta itu ke Polda Jatim. Dari laporan pihak keluarga, polisi bergerak cepat untuk melakukan penangkapan kepada pendeta (tersangka) pencabulan.

Pencabulan yang dilakukan oleh pendeta HL ini dilakukan terhadap IW (korban) masih berusia 9 tahun yang terhitung masih dibawa umur. Perlakuan itu terus berlanjut selama 17 tahun lamanya. Sampai IW (korban) berusia 26 tahun.

Selama kejadian tersebut, IW (korban) mengalami depresi yang luar biasa. Sampai prilaku IW (korban) sendiri hanya diam. Dan pihak keluarga mendatangkan dokter untuk mengobati depresi IW. [uci/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar