Hukum & Kriminal

Saksi Ahli: Pelajar Tusuk Begal, Layak Dijerat Pasal Pembunuhan

Saksi Ahli Hukum Pidana DR. Wahyu Priyo Djatmiko SH.M.Hum, M.Sc, Selasa (17/9/2019).

Malang (beritajatim.com) – Saksi Ahli Hukum Pidana DR. Wahyu Priyo Djatmiko SH.M.Hum, M.Sc mengatakan, kasus ZA (17), pelajar sekolah yang membunuh begal dengan menusukkan pisau dapur, harus dilakukan secara cermat dan kontekstual. Artinya, penanganan sesuai dengan kaidah hukum.

Terkait polemik di masyarakat yang mendukung aksi ZA dan meminta dibebaskan, harus dicermati serius. “Kami mendukung upaya Satreskrim Polres Malang dalam menegakkan hukum. Apa yang dilakukan ZA ini, bukanlah sebuah pembelaan diri yang wajar. Namun, lebih pada pembelaan diri yang berlebihan untuk to kill atau membunuh,” ungkap Wahyu Priyo usai bertemu dengan Kanit UPPA Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, Selasa (17/9/2019) siang.

Menurut Wahyu yang juga alumni Ahli Hukum Pidana Universitas Diponegero (Undip) Semarang, yang perlu dipahami masyarakat luas, kasus ZA ini berbeda dengan kasus pembegalan di Jakarta yang tersangkanya membawa senjata tajam. “Pada kasus ZA ini, pelaku begal tidak bersenjata. Hanya memberikan ancaman jika akan memperkosa pacarnya apabila tidak menyerahkan ponsel. Tapi ternyata, ZA sendiri sudah menikah. Lalu siapa gadis yang bersama ZA itu,” terang Wahyu Priyo.

Apa yang dilakukan UPPA ini sudah tepat. Menetapkan ZA tersangka. “Ini kesempatan bagi Polres Malang untuk mengkampanyekan jangan sampai ada kasus main hakim sendiri. Kalau kasus ini dibiarkan, dengan dalih membela diri kemudian menusuk dan membunuh dan menimpa keluarga kita bagaimana, ini harus dicermati betul,” ulasnya.

Kata Wahyu, kampanye anti main hakim sendiri ini harus dilakukan. Jangan ada budaya main hakim sendiri di masyarakat. Seting kejadian ZA ini di kebun tebu, ada ancaman akan diperkosa. Kemungkinan akan diperkosa ada, tapi tidak mutlak. Karena pelaku begal juga harus melumpuhkan dua orang. Dan itu tidak mudah karena pelaku begal ini tidak membawa senjata tajam.

“Polisi harus menganalisa secara lengkap kasus ini. Kejiwaan ZA harus dilihat. Upaya to kill atau membunuh yang dilakukan ZA lebih dari sekadar membela diri. ZA bahkan lebih dulu mengambil pisau dan menusukkan tepat di bagian yang mematikan,” bebernya.

Wahyu yang juga mantan dosen Unair Surabaya itu melanjutkan, pengertian membela diri ini dibenarkan apabila ada aktifitas lawannya melakukan penyerangan, atau korban terdesak. Baru kemudian cabut pisau. “Kata-kata membela diri harus didahului dengan tindakan penyerangan. ZA tersinggung karena ada ancaman verbal dari pelaku begal pacarnya akan diperkosa. Sementara kasus di Jakarta itu pelaku bawa celurit, potensi mengancam dan membunuh sangat besar. Posebility pemerkosa memang terjadi pada kasus ZA. Tapi tidak cukup dijadikan dasar ZA untuk menghilangkan nyawa orang,” tutur Wahyu.

Wahyu berpesan pada masyarakat, bahwasanya fungsi Kepolisian dalam hal ini melindungi nyawa seseorang. “Sekarang balikkan saja, kembalikan pada keluarga dan orang-orang terdekat kita apabila kasus ZA ini kita alami. Gunanya hukum itu untuk harmoni dan ketertiban sosial. Kalau nyawa dimaafkan dengan cara pasal 49, ingat pasal ini untuk melindungi orang-orang Belanda jaman dulu, pasal ini kan buatan Belanda. Jadi, membaca undang-undang itu jangan teks reading, harus kontekstual. Pasal 49 ini untuk melindungi orang Belanda, para pencuri dari kalangan pribumi ditembaki Belanda. Dalihnya kan membela diri saat itu,” ujar Wahyu.

Ia menambahkan, dalam kasus ZA ini, pihaknya mendukung langkah Satreskrim Polres Malang untuk terus mengkampanyek anti budaya main hakim sendiri. Karena hukum, dibuat untuk ketertiban, ketentraman, dan harmoni sosial.

“Kenapa ZA harus menusuk di bagian jantung, kenapa tidak melukai mulut atau wajah dari begal itu padahal pelaku begal tidak bersenjata. Setelah menusuk, ZA juga masih mengejar tersangka begal lainnya sambil membawa pisau. Saya tidak setuju kalau ZA dikenakan Pasal 351 tentang penganiayaan. Karena menurut kami ini sudah murni masuk Pasal 338 tentang pembunuhan,” kata Wahyu.

Masih menurut Wahyu, Polres Malang sudah tepat menetapkan ZA sebagai tersangka. Jangan sampai apa yang dilakukan ZA, justru dijadikan pembenaran untuk main hakim sendiri dan membunuh untuk membela diri. Harus dilihat secara utuh fakta-fakta dalam kasus ini. Analisa Polisi harus lengkap. Termasuk melihat kejiwaan ZA.

“Saya malah memohon agar ZA ditahan. Karena umurnya sudah 17 tahun, sudah menikah kok. Justru kalau gak di tahan, wah enak kok membunuh tidak ditahan karena berlindung dibawah Undang-Undang. Atau kalau tidak ditempatkan pada save house, untuk melihat kejiwaanya. Karena jika dibiarkan bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” Wahyu mengakhiri. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar