Hukum & Kriminal

Begini Kronologi dan Motif Pembunuhan Terhadap Vina di Hutan Pacet Mojokerto

Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander merilis pengungkapan kasus pembunuhan karyawan pabrik. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dua pelaku pembunuhan Vina Aisyah Pratiwi (21) yang mayatnya ditemukan di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo Dusun Pacet Selatan, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, bermotif hutang piutang. Korban punya hutang piutang kurang lebih Rp 50 juta kepada salah satu pelaku.

Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander mengatakan, Mas’ud Andy Wiratama (27) warga Kelurahan Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo merupakan pelaku utama. “Pembunuhan berencana masalah hutang piutang. Korban selalu pinjam uang ke pelaku, Mas’ud,” ungkapnya, Jumat (26/6/2020).

Masih kata Kapolres, korban Vina Aisyah Pratiwi (21) yang masih satu kelurahan dengan pelaku utama tersebut diajak keliling dengan alasan diajak mengantar pelaku Rifat Rizatur Rizan (20) warga Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ke Lawang. Namun tujuannya untuk menagih hutang ke korban.

“Namun jika korban tidak bisa membayar maka akan dibunuh. Sampai di Tol Singosari, ternyata korban mengaku tidak punya uang sehingga dilakukan pembunuhan. Sudah ada perencanaan, namun awalnya menagih hutang,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Rifaldhiy Hangga Putra menambahkan, tersangka Mas’ud dua hari sebelum kejadian mengajak tersangka Rifat menagih hutang kepada korban karena korban mempunyai hutang kepada tersangka Mas’ud senilai kurang lebih Rp 50 juta.

“Dan jika tidak berhasil akan membunuhnya dan mengambil barang-barang milik korban. Pada Selasa (23/6/2020) sekira pukul 17.00 WIB tersangka Mas’ud mengajak korban dengan alasan mengantarkan tersangka R ke lawang menggunakan mobil Ayla nopol W 1502 NU warna putih,” jelasnya.

Sampai di tol arah Malang, lanjut Kasat, karena tidak bisa berhasil menagih hutang kedua tersangka membunuh korban. Kasat menjelaskan, jika hutang piutang tersebut terjadi mulai bulan Januari 2020 dengan total kurang lebih Rp 50 juta.

“Korban sering pinjam uang ke tersangka Mas’ud sejak bulan Januari lalu. Tidak ada rasa suka, cuma memang korban ini kalau ngomong memelas sehingga tersangka tergerak untuk memberikan pinjaman. Namun sampai mencapai kurang lebih Rp 50 juta, korban ditagih selalu menjanjikan melunasi. Buka motif asmara, tapi hutang piutang,” tegasnya.[tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar