Surabaya (beritajatim.com) – Cuaca di wilayah Ngawi, Magetan, dan Ponorogo pada Jumat, 14 Maret 2025, diprediksi akan diawali dengan hujan ringan di pagi hari sebelum berlanjut dengan kondisi berawan sepanjang hari. Berdasarkan laporan dari Oky Sukma Hakim, S.Tr., prakirawan BMKG Juanda, ketiga daerah ini akan mengalami pola cuaca yang serupa dengan suhu yang bervariasi.
“Warga di Ngawi, Magetan, dan Ponorogo sebaiknya mempersiapkan perlengkapan penunjang cuaca, seperti payung atau jas hujan, karena hujan ringan diprediksi turun pada pagi hari. Setelah itu, langit akan cenderung berawan sepanjang hari hingga malam,” ujar Oky Sukma Hakim.
Di Ngawi, hujan ringan diperkirakan turun sekitar pukul 06.00 WIB. Setelahnya, langit akan tertutup awan hingga malam hari. Suhu udara di kota ini berkisar antara 23 hingga 31 derajat Celcius, dengan kelembaban udara mencapai 74 hingga 98 persen. Sementara itu, angin bertiup dari Barat Laut dengan kecepatan sekitar 22,7 km/jam.
Sementara itu, Magetan juga diprediksi mengalami kondisi cuaca yang sama. “Magetan akan mengalami hujan ringan pada pagi hari, lalu langit tetap berawan sepanjang hari. Suhu di wilayah ini lebih rendah dibandingkan Ngawi, yaitu berkisar antara 22 hingga 28 derajat Celcius,” jelas Oky.
Angin di daerah ini bertiup dari Barat Daya dengan kecepatan sekitar 24 km/jam, sementara kelembaban udara berada di kisaran 81 hingga 98 persen.
Di Ponorogo, kondisi cuaca juga hampir serupa. Hujan ringan diperkirakan turun pada pagi hari, sebelum berlanjut dengan kondisi berawan hingga malam. Namun, suhu di Ponorogo cenderung lebih tinggi dibandingkan dua wilayah lainnya, yaitu 23 hingga 32 derajat Celcius. Angin bertiup dari arah Selatan dengan kecepatan 26,7 km/jam, sedangkan tingkat kelembaban udara berada di kisaran 75 hingga 97 persen.
Dengan kondisi cuaca yang cenderung berawan setelah hujan pagi, warga di ketiga daerah ini diimbau untuk tetap berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.
“Meskipun hujan hanya turun pada pagi hari, langit yang berawan sepanjang hari tetap bisa mempengaruhi kondisi suhu dan kelembaban. Masyarakat sebaiknya tetap menjaga kesehatan dan menghindari dehidrasi,” tambah Oky.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat terus memantau pembaruan cuaca dari BMKG agar dapat merencanakan aktivitas mereka dengan lebih baik. [mnd/aje]






