Ponorogo (beritajatim.com) – Warga yang terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri (isoman) di bumi reyog rencananya bakal ditempatkan di isolasi terpusat (isoter) di rumah karantina shelter kampung reyog di Jalan Trunojoyo Kelurahan Tambakbayan Ponorogo. Dalam tahap awal, warga isoman yang akan ditempatkan di isoter, yakni yang berada di dalam kota dan kecamatan penyangga.
“Target awal 70 pasien dulu yang ada di dalam kota dan kecamatan sekitar. Harapan kita sih, pasien yang isoman ini banyak yang sembuh, sehingga tidak terlalu banyak yang kita geser ke isoter,” kata Dandim 0802 Ponorogo Letkol INF Muhamad Radhi Rusin, Rabu (18/8/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”covid-19″]
Selain shelter yang berada di sentra industri kampung reyog, warga isoman juga bisa ditempatkan di rumah sakit lapangan yang berada di samping shelter. Di rumah sakit lapangan itu, berkapasitas sebanyak 78 bed.
Kalau yang di dalam kota sudah lancar, kemudian ditargetkan lagi warga isoman yang berada di desa-desa. Untuk yang di desa, bisa digeser ke tempat isolasi yang berada di balai desa masing-masing.
“Targetnya sih tidak ada lagi yang isoman. Ini permasalahan yang komplek, maka saya sudah berkoordinasi dengan Kapolres dan Kadinkes Ponorogo. Prioritas utama kita gerakan dulu yang berada di kota dan sekitar,” katanya.
Pemindahan pasien isoman bergeser ke isoter, kata Radhi adalah berdasarkan evaluasi dari Pemerintah Pusat saat vidio konferensi (vikon) dengan beberapa daerah termasuk Jatim. Angka kematian yang tinggi akhir-akhir ini salah satunya disebabkan oleh pasien isoman. Sebab, mereka tidak terpantau langsung dengan tenaga kesehatan. Mereka tidak tahu, saturasi oksigennya berapa, karena di rumah tidak ada alatnya. Dibawa ke rumah sakit saat kondisinya sudah memburuk, akhirnya tidak tertolong dan meninggal dunia.
“Inilah alasannya pasien isoman digeser ke isoter. Di isoter, nakes dan alat untuk mengukur saturasi ada untuk memantau kondisi pasien,” katanya.
Selain pemantauan kondisi kesehatan, pasien isoman yang digeser ke isoter karena faktor penularan. Rendahnya pengetahuan masyarakat, penularan bisa cepat. Dan pasien isoman bisa menimbulkan klaster-klaster keluarga.
“Anggota keluarga lain mungkin tertular saat mengantarkan makanan untuk pasien isoman, atau tempat makan yang dicuci belum steril. Akhirnya terjadi penularan dan timbul klaster keluarga,” pungkasnya. (end/kun)






