Malang (beritajatim.com) – Kota Malang digemparkan dengan fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh para remaja atau generasi milenial. Setidaknya dalam waktu yang berdekatan ada rentetan tindakan percobaan bunuh diri dimana salah satunya meninggal dunia.
Sejumlah aksi percobaan bunuh diri. Tercatat terjadi pada Jumat (26/5/2023). Seorang remaja berinisial TJS (18) asal Kabupaten Malang meninggal dunia setelah melompat ke Sungai Brantas di Jembatan Jalan Soekarno Hatta (Suhat), Kota Malang.
Dua hari berselang, pada Minggu (28/5/2023) sekira pukul 01.04 WIB dinihari viral video beberapa laki-laki berlari menyelamatkan seorang wanita yang diduga hendak terjun ke sungai. Dari video yang beredar, wanita itu duduk di pinggir pembatas Jembatan Jalan Soekarno Hatta dan diduga akan terjun ke bawah Sungai Brantas.
Psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Fuji Astuti menyebut kesehatan mental menjadi faktor penting sebagai pencegahan agar seorang tidak mengakhiri hidup dengan cepat. Kesehatan mental dianggap sangat penting disamping kesehatan fisik. Leduanya memerlukan penanganan yang berbeda karena sama-sama memiliki potensi kematian.
“Pentingnya untuk peduli dengan kesehatan mental kita. Setidaknya jika belum bisa membantu, jangan mendeskreditkan orang yang mengalami masalah dalam kejiwaan,” ujar Fuji, Rabu (31/5/2023).
Dalam pandangnya, seseorang yang terbesit pikiran untuk bunuh diri adalah mereka yang merasa beban hidupnya sudah diluar kemampuan. Banyak proses yang dia alami untuk bertahan hidup. Ada gejala tertentu yang harus segera tertangani agar seseorang tidak sampai nekat bunuh diri.
“Mulai menarik diri dari lingkungan, merasa hidupnya hampa hingga merasa tidak ada orang yang memperhatikannya. Mereka butuh pendampingan konseling,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Fenomena Bunuh Diri di Kota Malang, Polisi Sarankan Jembatan Suhat Diberi Pagar
Nekat Bunuh Diri Lompat dari Jembatan Suhat, Aksi TJS Sempat Digagalkan Tahun Lalu
Dia menyebut, jika seseorang sudah merasa hampa, dengan aktifitas rutinitas. Dia menyarankan agar mencoba mengubah pola aktifitas. Seperti mengatur kamar agar lebih menyenangkan, berolahraga hingga menyalurkan hobi yang dimiliki.
“Kegiatan kegiatan itu bisa meminimalisir perasaan depresi. Jangan lupa juga tetap terhubung dengan orang lain baik di media sosial maupun secara langsung dengan orang yang dikenal dan bisa menguatkan,” ujarnya.
Disisi lain bagi kerabat, teman ataupun saudara yang memiliki seseorang dengan problem serupa diharapkan mampu menghibur dan memberikan semangat. Minimal mereka tidak ikut mengungkit permasalahan. Agar seseorang itu tidak semakin depresi.
“Cobalah cari akar masalahnya dan jadi tempat ternyaman dengan tidak mengungkit ungkit permasalahan orang yang depresi itu,” tandasnya. [luc/but]
Jika Kamu butuh bantuan konsultasi untuk mengatasi masalah depresi atau Kamu melihat orang yang ingin melakukan aksi bunuh diri bisa menghubungi nomor darurat Kementerian Kesehatan di 119.






